Saat Teuku Wisnu berlibur ke negeri Sakura pada bulan Mei 2016, mengatakan bahwa kesuksesan di bisnis Malang Strudel yang dijalankan bersama kawan-kawannya tak lepas dari semangat Bushido ala Jepang ini. Kerja keras dengan kesungguhan dan disiplin, dibuktikan dengan beroperasinya lima outlet yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal ke Malang.
Mari kita bedah lebih mendalam, mengapa seorang artis Indonesia termasuk salah satu yang mengagumi prinsip Bushido tersebut.
Bushido pada ratusan tahun lalu awalnya adalah sebuah prinsip seorang Samurai. Bushi mempunyai arti tentara, sedangkan do artinya jalan atau cara. Secara keseluruhan mempunyai arti jalan tentara.
Setelah era pembaharuan Meiji, samurai sebagai kekuatan tentara dihapus dalam sistem pemerintahan. Walaupun begitu semangat Bushido-nya tetap hidup sebagai prinsip yang selalu dipegang oleh orang Jepang. Terbukti, orang Jepang dalam bekerja dilakoni dengan kesungguhan dan disiplin yang tinggi. Sehingga mereka terkenal dengan etos kerjanya.
Makna yang lebih komprehensif adalah kesetiaan dan pengabdian hingga titik terakhir bagi perusahaan atau lebih luas lagi yaitu tanah airnya.
Jika seseorang sudah konsisten dengan prinsip hidupnya loyalitas yang tinggi kepada perusahaan, maka kesungguhan dalam bekerja pun akan terbentuk. Dia akan berusaha dengan semangat yang tidak pernah padam agar perusahaannya dapat going concern selama ia bekerja.
Ada tujuh nilai nilai Bushido yang secara inherent melekat yaitu:
1. Gi (Integritas)
Konsistensi dalam menjunjung tinggi keputusan yang sudah ditetapkan pimpinan. Jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat. Keputusan diambil tanpa memandang warna kulit, ras, jenis kelamin ataupun usia.
2. Yu (Keberanian dalam kesulitan)
Keberanian adalah suatu tindakan seseorang untuk menghadapi suatu kondisi bahaya. Karakter ini melekat pada jiwa samurai. Kondisi yang penuh tekanan dan kesulitan pun tetap dihadapi dengan keberanian mereka. Namun untuk menjaga sifat ini dilandasi dengan latihan yang penuh disiplin dan totalitas.
3. Jin (Welas asih)
Aspek yin (maskulin) dan yang (feminin) dimiliki dalan Bushido. Para samurai yang selalu berada di lingkungan kekerasan, seperti berlatih ilmu pedang dan strategi berperang, mereka pun harus memiliki sifat kasih sayang, mencintai dan peduli kepada sesama.
4. Rei (Hormat Kepada Orang Lain)
Seorang Samurai senantiasa harus patuh kepada kode etiknya sampai kapanpun. Termasuk salah satunya adalah hormat kepada orang lain, yang dijabarkan dengan penghormatan kepada pimpinan, orang tua dan tamu yang ditemuinya. Bahkan sikap santun pun terlihat saat samurai melakukan cara duduk, berbicara, dan memperlakukan pedangnya.
5. Makoto (Kejujuran)
Sikap jujur dan tulus merupakan sifat yang terlihat jelas pada seorang yang menyandang sebagai samurai. Mereka menjaga ucapan dan menghindari gunjingan terhadap koleganya. Dalam menyampaikan informasi, selalu sesuai kenyataan dan kebenaran. Begitu juga saat mereka membuat janji, maka selalu ditepatinya.
6. Meiyo (Martabat)
Dalam menjaga kehormatan, samurai menjalankan Bushido secara konsisten sampai kapanpun. Selain itu, samurai selalu menjaga harga diri yang tinggi dengan cara menghindari perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan menghormati waktu.
7. Chugi (Kesetiaaan)
Kesetiaan seorang ksatria diperlihatkan saat pimpinannya dalam keadaan sukses maupun sedang menghadapi permasalahan. Wajar pada saat saat sukses, mereka akan setia kepada pimpinannya, Tetapi yang hebat adalah saat pimpinannya sedang dalam keadaan yang tidak diharapkan terjadi, mereka tidak meninggalkannya.
