Bernas.id – “Duh, gemes sama si adek pipinya tembem, bibirnya merah lucu banget sih kamu. Jadi pingin cubit.” Yang namanya wanita sudah dari sananya punya naluri keibuan, bahkan wonder woman sang superhero wanita pasti pupilnya membesar kalau lihat bayi. Bayi biasanya sudah “minta” berdiri saat usianya rata-rata memasuki 7 sampai 8 bulan atau bisa dikatakan tahun awal pertumbuhan. Pada masa ini, bayi pasti ditemani oleh bundanya karena biasanya saat mulai berdiri langsung jatuh, lalu mulai mencoba berdiri lagi lalu jatuh lagi, hingga berkali-kali. Bayi belum memiliki kaki yang kokoh untuk menopang berat tubuhnya. Otot- ototnya pun belum cukup kuat untuk berdiri, sehingga tidak heran terlihat “goyang-goyang” kemudian terjatuh.
Mirip dengan bayi yang baru belajar berdiri, perjalanan bisnis di tahun awal berdiri tentunya belum memilki “otot” yang kuat. Ototnya belum terbiasa menghadapi goncangan, sehingga terkadang jatuh kembali. Sebenarnya apa yang menyebabkan sebuah bisnis gagal di tahun pertama berdiri? Berikut beberapa penyebabnya:
Pertama, Tidak mencari pangsa pasar
Biasanya pelaku bisnis terlalu sibuk dan fokus pada produknya, sehingga tidak sadar akan pentingnya memetakan target pasar demi kemajuan bisnisnya ke depan. Dengan mengetahui target pasar, tentunya akan lebih memudahkan kita saat pemasarannya. Lebih spesifik kita memetakannya, maka akan lebih mudah kita untuk memilah dan memilih jenis aktifitas yang hanya berkaitan dengan pemasaran produk. Selain itu, jika potensi pasar sudah terdeteksi akan lebih mudah, efektif dan efesien bagi kita dalam menerapkan strategi Promo Marketing.
Kedua, Leadership yang lemah.
Namanya pemilik usaha sudah pasti harus punya mental kepemimpinan karena dialah yang akan menentukan maju mundur usahanya. Pelaku bisnis pemula harus memiliki jiwa kepemimpinan minimal bagi dirinya sendiri. Sudah harus dihilangkan kebiasaan menunda dan malasnya karena itu akan berpengaruh terhadap konsistensi bisnisnya. Pelaku bisnis harus memiliki karakter leadership seperti fokus, service oriented dan disiplin, mulai dari membuat target, program kerja, hingga memonitor semua prosesnya. Coba evaluasi, apakah saat ini sudah memiliki program kerja dan jadwal kerja? Sudahkah mengerjakannya hingga tuntas tanpa perlu diperingatkan apalagi disuruh orang lain? Jika jawabannya belum segeralah perbaiki!
Terakhir, Kehabisan modal.
Ini memang alasan klise, tetapi sangat mungkin menyebabkan “ambruknya” usaha yang kita bangun. Sebagai pelaku bisnis kita harus cermat memperhitungkan segala pengeluaran baik yang sifatnya bahan dasar atau biaya operational. Disiplin dalam melakukan pencatatan keuangan juga sangat membantu kita memiliki alarm kapan harus STOP atau lanjut. Perhatikan arus keluar masuknya uang kita. Jangan gunakan modal untuk kebutuhan usaha di luar pos-pos yang sudah ditentukan. Di tahun tahun awal bisnis dimulai tentunya hampir seluruhnya adalah biaya. Catatan keuangan sangat diperlukan agar uang pribadi kita tidak tercampur dengan modal dan keuangan usaha. Karena sifat jelek kita ? menggampangkan? akibatnya tidak terasa modal sudah habis. Biasanya sebuah bisnis membutuhkan waktu 1 sampai 2 tahun untuk bisa balik modal. Namun, tidak semua bisnis mampu bertahan hingga waktu BEP tercapai. Nah, jika modal habis sebelum bisnis BEP (balik modal), maka bisa dipastikan bisnis akan berhenti. Kalau sudah begini tidak ada obatnya selain suntikan modal atau bisnisnya gulung tikar.
Itulah 3 hal yang perlu dihindari dalam bisnis. Jika pelaku bisnis bisa konsisten menjaga kedisiplinan dan selalu jeli terhadap peluang yang ada, tentunya bisa melewati masa krisis di tahun awal berdirinya usaha. Dan biasanya suatu usaha dikatakan stabil dan maju, jika bisa melewati sepuluh tahun pertamanya.
