Bernas.id ? Suatu sore, sebut saja bapak Edi, menaruh perhatian pada anak-anak tetangga yang sedang ramai bermain di lahan kosong milik warga setempat. Saking ramainya hiruk-pikuk suara anak-anak hingga mungkin bisa mengalahkan suasana keramaian loka wisata Baturraden, yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak Edi melongok keluar jendela dan didapati pemandangan yang unik luar biasa. Dia melihat anak-anak tetangga sedang bermain bandhol. (Jawa: Ban bodhol).
Siapa sangka permainan bandhol masih ada di tempat ini. Kala banyak orang sudah dilupakan bagaimana asyiknya balapan bandhol semasa kecil dulu. Ya, anak-anak sedang balapan bandhol melalui sela-sela kebun mengikuti rute yang mereka tentukan sendiri.
Persis seperti zaman kita kecil dulu, balapan bandhol melalui gang-gang kecil, masuk ke pekarangan dan kebun warga sampai dimarahi pemilik kebun. Akhirnya, dengan inisiatif tokoh masyarakat digelar lomba bandhol di lapangan desa setempat. Berhadiah uang ratusan ribu rupiah kala itu disediakan oleh kepala desa dan berbagai pihak sponsor. Lomba diikuti oleh anak-anak dan remaja. Lapangan desa diset sedemikian rupa hingga terbentuk jalur trek balap yang unik berbagai model. Ada trek jumping, jalan bergelombang, jalan berlumpur, jalan rumput, tikungan tajam, semua dilalui dengan baik oleh para peserta.
Ramainya kala itu, penonton bersorak-sorai. Tidak kalah dengan balap motoGP yang sering kita lihat di televisi. Peserta balap bandhol yang memasuki finish pasti bercucuran keringat, napas memburu, dan raut wajah mereka menampakkan kegembiraan, walaupun tidak menang balapan. Keceriaan mereka, keringat mereka, adalah hasil bermain yang menyehatkan. Secara awam ini hanya sebuah permainan. Namun, permainan balap bandhol ini merupakan kolaborasi antara bermain dan berolah raga. Inilah salah satu bentuk permainan yang dirindukan saat ini.
Kini, balap bandhol itu ada di hadapan mata pak Edi, di kebun dekat rumahnya. Siapa sangka permainan ini muncul kembali di sekitarnya. Bagaimana jika permainan ini kita lestarikan? Kita adakan kembali kejuaraan bandhol dengan piala bergilir bupati setempat dan hadiah uang pembinaan dari dana CSR (Coorporate Social Responsibility) beberapa perusahaan, instansi pemerintah dan swasta. Barangkali ada beberapa orang tokoh yang sepakat memberikan dana sponsor, maka lomba balapan bandhol bisa kembali terselenggara di wilayah tempat tinggal kita.
Kita turut meramaikannya dengan mengirim anak-anak kita menjadi peserta, sekaligus memberikan ruang kepada anak kita untuk bersosialisasi dengan anak-anak tetangga. Momen ini bagus untuk membina karakter mereka agar peduli dengan orang lain, berinteraksi dengan dunia di luar rumah mereka, dan melatih mereka untuk bergerak, bermain sekaligus berolah raga.
Ajari mereka untuk meninggalkan permainan hp, gadget atau playstation yang tidak menyehatkan! Masa depan bangsa ini juga butuh generasi yang sehat dan kuat. Merekalah yang kita harapkan dapat menggantikan estafet kepemimpinan dan pembangunan negeri ini, agar Indonesia kembali jaya sebagai Nusantara warisan Patih Gajahmada.
Salam dari desa!
