Bernas.id – Indonesia diprediksikan memiliki 66,6 persen masyarakat dengan usia produktif pada tahun 2045. Usia 15 ke atas hingga 64 tahun itu menjadi tantangan yang harus diperhatikan di Indonesia. Jangan sampai pasar bebas lebih memilih tenaga kerja non Indonesia daripada tenaga kerja asal Indonesia. Apakah mau jika penduduk negeri ini menjadi budak di negeri sendiri? Tentu, tidak mau.
Selain tantangan demografi, Indonesia punya tantangan di era globalisasi. Banyaknya media sosial menjadi permasalahan bangsa ini. Pemanfaatan media yang disalahgunakan pun menjadi sorotan. Jiwa-jiwa penasaran pemuda dijadikan titik kelemahan bangsa melalui konten pornografi dan games tak mendidik, sehingga waktu produktif pemuda terbuang percuma. Oleh sebab itu, menjadi pemuda produktiflah yang dibutukan oleh negeri ini. Apa saja ya tipsnya?
1. Tentukan Goal atau Tujuan
Tidak ada salahnya menentukan tujuan hidup mulai sekarang. Dahulu, ada seseorang yang mencantumkan tujuan hidupnya sebanyak 50 goals. Memang, tidak semuanya tercapai. Namun, sebagian besar tujuan itu tercapai, bahkan beberapa tujuan tercapai melebihi target. Bukankah itu adalah hal yang membanggakan? Jika 70% dari 262 juta penduduk Indonesia berhasil mencapai tujuan hidup yang menjadi tujuan Indonesia, tidakkah Indonesia ini akan maju? Berapa penduduk miskin yang berkurang? Bagaimana tingkat kesejahteraan penduduk tahun tersebut?
Sebagai awalan tips, tentukan tujuan jangka pendek harian, mingguan, baru setelah itu bulanan, tahunan. Pernah dengar 30DWC? Di program tersebut, orang ditantang 1person1Day1post. Artinya, satu hari hanya membutuhkan satu posting oleh satu orang. Yakin, dengan adanya target itu, orang pasti lebih termotivasi meskipun awal program terpaksa banget untuk menulis.
2. Belajar Hal-Hal Baru
Berbicara tentang passion, pasti setiap orang punya bakat masing-masing. Penulis, pelukis, programming, wiraswasta/pengusaha, dan lain-lain. Menemukan bakat tidaklah mudah, tetapi menurut pengalaman beberapa orang, bakat itu berasal dari suatu hal yang disukai. Setelah menemukan bakat, tak ada salahnya belajar sesuai peran orang tersebut. Peran seorang wanita, nantinya akan menjadi ibu, maka dia harus belajar memasak, sabar, dan mempelajari keuangan. Peran seorang laki-laki nantinya akan menjadi ayah, harus belajar beres-beres rumah agar istri tidak menjadi super mom (semuanya diserahkan ke istri).
Selain belajar mengenai rumah tangga, anak muda yang produktif akan memanfaatkan kemampuan dirinya dan selalui meng-upgrade diri. Misalnya, dia suka meneliti suatu hal, maka dia akan belajar metode penelitian, bahan pendukung penelitian, cara mencari dana, dan lain-lain. Pengalaman tersebut akan dinilai lebih oleh orang lain.
3. Aktif dan Partisipatif di Komunitas
Menekuni suatu bidang tidaklah mudah. Tantangan baru, sikap malas, pengaruh teman, kerap kali menjadi penghalang anak muda produktif. Jangan kecewa! Masih ada anak muda sevisi yang ingin berkontribusi. Mereka yang sevisi, pasti akan punya komunitas penyemangat ketika seseorang ingin berbelok dari jalannya.
Dari tiga langkah itu, tentu harus ditanam dalam pikiran bahwa konsisten itu sulit. Sebab, ujian tidak hanya datang dari bisikan setan, melainkan setan manusia pun ada. Sejatinya, orang itu sendiri yang menentukan, apakah dia mau maju atau tidak? Jika mau maju, dia harus bergerak! Pertama, tentukan tujuan. Kedua, belajar hal-hal baru. Ketiga, aktif dan partisipatif dalam komunitas. Yuk bergerak produktif! Hidup anak muda produktif!
