Bernas.id – Lalat diyakini sebagai serangga yang berpotensi menyebabkan berbagai macam penyakit. Hewan yang menjijikkan karena hinggap di tempat kotor mulai dari sampah, bangkai, kotoran dan tempat-tempat lainnya. Diketahui bahwa lalat setidaknya menjatuhkan 125.000 bibit penyakit setiap hinggap di suatu tempat.
Lalat tidak memiliki kemampuan melihat dengan baik tetapi hewan ini memiliki penciuman yang tajam dengan radius 750 meter. Bergerak cepat dan gesit. Hingga saat ini tercatat 60.000-100.000 spesies lalat. Namun yang patut diwaspadai ada empat jenis, yakni lalat rumah, lalat hijau, lalat biru dan lalat latirine.
Keempat jenis lalat ini diyakini merupakan lalat yang paling sering membawa sumber penyakit dan berkeliaran di lingkungan rumah. Meski umurnya hanya 30 hari, sekali bertelur lalat mampu bertelur mencapai 3.000 telur.
Lagi-lagi meski umurnya singkat, lalat mampu menyebar penyakit yang justru berdampak membahayakan. Bakteri E. Coli menimbulkan penyakit pada saluran pencernaan, misalnya diare. Kolera dan thypoid juga bisa muncul dengan gejala disertai demam.
Ada berbagai upaya pencegahan penyebaran penyakit karena lalat ini. Mulai kebersihan tangan, pembunuhan jentik larva hingga peningkatan sanitasi lingkungan rumah.
Tapi tahukah Anda, ternyata lalat tidak hanya membawa ribuan bibit penyakit, namun juga membawa obat pada sayapnya. Dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian Joan Clark bahwa lalat mengeluarkan zat antibiotik untuk menetralisir penyakit pada air yang tercelup sayapnya. Bahkan Prof. Juan Alvarez Bravo dari Universitas Tokyo mengisyaratkan pemanfaatan ekstrak lalat untuk pengobatan.
Dikutip dari buku ?Cerita-Cerita Sains Terbaik dari Al-Quran? (2015), bakteri patogen tipe E.Coli ditemukan pada air yang tak dicelupkan lalat. Sementara pada air yang dicelupkan lalat, bakteri yang ada dalam air tersebut terhambat perkembangannya oleh mikro organisme yang memproduksi antibiotik.
