Bernas.id – ‘Ah, aku mah ngga bakat jadi penulis. Susah dapet idenya.’ Begitulah pernyataan sebagian banyak orang yang enggan mengabadikan ceritanya sebagai motivasi untuk orang lain. Menulis bukanlah sebuah bakat. Ada banyak profesi yang digeluti seseorang bukan karena faktor bawaan sejak lahir. Motivator pandai berbicara di depan umum pastilah dengan berlatih berulang kali.
Pelukis ternama pun pastilah memiliki lika-liku panjang tentang pencapaian hebatnya. Menulis pun tiada beda. Penulis yang sukses menghasilkan karya pastilah memulainya dengan tulisan-tulisan sampahnya. Tulisan yang awalnya tak dilirik sedikit pun. Setujukah Anda bahwa kendala menulis selalu berkutat tentang ide?
Baca juga: Cara Menulis Kutipan Langsung dan Kutipan Tidak Langsung Lengkap
Kebanyakan orang beralasan soal sulitnya mendapatkan ide untuk menulis. Ada yang sudah berkeinginan menulis, namun terhenti karena terlanjur bingung mencari topik penulisan. Menulis sama halnya dengan pengamat ulung. Dengan satu langkah kaki pun, seorang penulis bisa kebanjiran ide untuk menulis. Jika ada pernyataan kehabisan ide, bisa jadi muncul karena Anda belum membudayakan sikap ini. Anda masih tertarik untuk menulis? Yuk, budayakan beberapa hal berikut.
Peka terhadap lingkungan sekitar
Rasa peka terhadap sekitar tak hanya diperlukan demi kepentingan antar personal, melainkan dalam hal menulis pun sikap ini amat berguna. Bayangkan saja jika Anda sering-sering mengamati secara seksama keadaan lingkungan, maka takkan habis cerita yang bisa dibahas. Duduk santai di kedai kopi misalnya. Anda bisa menjadikan kopi, kedai, pelayan, penjual dan hal-hal lain sebagai ide untuk menulis.
Baca juga: Interpretasi : Pengertian , Tujuan, dan Macam-macamnya
Belajarlah menjadi pendengar yang baik
Selain menjadi pengamat ulung, Anda juga harus menjadi pendengar yang baik. Dengan mendengarkan kabar berita dari mulut ke mulut Anda bisa menemukan ide menulis. Ditambah lagi dengan adanya media massa elektronik. Rajin-rajinlah memperhatikan perkembangan dunia melalui televisi atau radio, maka dengan mudah Anda akan mendapat ide tambahan. Saat Anda sedang berbincang satu sama lain atau berada pada sebuah pertemuan seminar Anda juga berkesempatan mendapat ilmu yang bisa diangkat sebagai tema penulisan.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
Berpikir positif kapan pun dan dimana pun
Sikap ini sangat berarti terlebih dalam kondisi yang buruk. Saat banyak masalah menimpa Anda, maka pintar-pintarlah menarik hikmah. Hikmah yang didapat bisa dibahas dalam sebuah tulisan. Berpikir positif sekalipun situasi tidak menguntungkan, maka akan ada pelajaran yang dapat diambil. Pelajaran dari pengalaman yang Anda punya bisa dialihkan menjadi tulisan yang menginspirasi para pembaca nantinya.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Berpegang teguh pada kedisiplinan
Jika Anda melupakan prinsip kedisiplinan, maka kesempatan akan lewat begitu saja. Disiplin dalam menulis adalah lihai merangkum hal apapun yang melintas pada pemikiran. Biasakan mencatat apa saja yang dapat dijadikan bahan untuk penulisan. Hal ini untuk meminimalisir alpanya seseorang atas ide yang didapat sekilas saja.
Menulis bukan soal pintar berbahasa melainkan pandai membaca kesempatan setiap saat. Selamat menulis!
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
