Bernas.id – Mungkin sebagian dari kita ada yang belum tahu kisah tentang meninggalnya wanita cantik Marwa El Sherbini? Berita kematiaannya memang tidak terlalu diekspos oleh media, sehingga sedikit orang yang mengetahuinya. Ia adalah seorang peneliti farmasi dan pemain handball asal Mesir yang mati karena mempertahankan hijabnya.
Semuanya bermula ketika ia pindah dari Bremen ke Dresden, mengikuti suaminya Elvi Ali Okaz pada tahun 2008, yang saat itu meneruskan kuliahnya setelah mendapatkan beasiswa kandidat doktor dari lembaga Max Plank Institute For Molecular Cell Biology and Genetics.
Di daerah baru tempat ia tinggal, ternyata Allah menguji keimanannya dengan seorang tetangga yang sangat membenci islam. Tetangga tersebut kerap kali mengata-ngatai Marwa dengan sebutan teroris, pembantai dan segala macam tuduhan lain yang tentunya sangat menyakiti hati. Terlebih parahnya lagi, hal tersebut sering kali di lontarkan oleh tetangganya di tengah keramaian kota. Bisa kita bayangkan bagaimana sedihnya perasaan ibu satu orang anak ini dalam menerima perlakuan buruk tetangganya tersebut. Namun, karena kekuatan imannya, ia tetap kekeuh pada keyakinannya. Ia tidak berusaha menyenangkan hati tetangganya dengan melepas hijab, justru karena perlakuan buruk dari tetangganya tersebut, keimanannya malah semakin bertambah kuat.
Meski di sekitar tempat tinggalnya ia sering diperlakukan tidak baik. Jilbabnya sering ditarik-tarik, sering dikata-katai, sering di olok-olok, Marwa tidak pernah menanggalkan hijabnya sekalipun, ia tetap membela dirinya ketika jilbabnya hendak ditarik oleh tetangganya di tempat umum.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan buruk tetangganya tersebut, wanita asal Mesir ini pun melaporkan aksi jahat tetangganya ke polisi. Setelah ditindaklanjuti, pengadilan Jerman menyatakan bahwa tetangganya itu terbukti bersalah atas tuduhan tindakan rasialis dan didenda 780 euro. Namun, tetangga yang berdarah Jerman-Rusia ini tidak terima akan hal tersebut, sehingga ia pun mengajukan banding dan bandingnya diterima oleh pengadilan.
Ketika mengajukan banding itulah kejadian yang menyayat hati tersebut terjadi. Saat memberi kesaksian, Marwa El Sherbini wanita cantik keturunan Mesir tersebut ditikam dengan hujaman pisau sebanyak 18 kali oleh tetangganya dalam waktu 30 detik. Kejadian ini disaksikan oleh suami dan anaknya yang ketika itu berusia 3 tahun. Saat sang suami berusaha menolong istrinya, ia pun ikut ditikam dan kemudian ditembak oleh polisi yang bertugas menjaga persidangan. Sampai saat ini, tidak diketahui pasti apakah tembakan tersebut disengaja atau meleset, yang jelas kejadian tersebut berhasil merenggut nyawa Marwa yang saat itu sedang mengandung anak keduanya, sedangkan sang suami pun harus dirawat karena keadaannya sangat kritis.
Persidangan itu berlangsung pada tanggal 1 Juli 2009. Setelah kejadian memilukan tersebut, untuk menghormati dan menghargai perjuangan dan keteguhan hati Marwa, tanggal 1 Juli diperingati sebagai hari jilbab sedunia dan Marwa dijuluki sebagai ?Wanita sang pahlawan jilbab.?
Sungguh wanita luar biasa, ia rela mati demi kehormatannya. Meski hijabnya sering di tarik dan di caci maki di depan umum oleh tertangganya tersebut, namun ia tetap mengunakan hijabnya dan tidak pernah melepasnya.
MasyaAllah, bisa kita bayangkan bagaimana susahnya menjadi Marwa yang setiap hari selalu mendapat perlakuan buruk dari tetangganya dan kemudian mati pun karena ditikam oleh tetangganya sendiri. Semoga Allah menempatkan beliau ditempat yang indah. Semoga kematiannya pun dinilai sebagai mati syahid oleh Allah. Aamiin.
