Bernas.id ? Masyarakat heterogen identik dengan hutan lebat di pegunungan. Berbagai macam tumbuh-tumbuhan, semak belukar dengan aneka jenis rumput-rumputan, serta berbagai jenis koloni hewan liar. Lalu, siapakah yang berkuasa di hutan lebat itu? Bila kita bertanya kepada anak-anak, mereka akan dengan lantang menjawab, ?Harimau si Raja Hutan, Kakaaak.? Harimau atau singa, sama saja. Itu dunia dongeng.
Dalam kehidupan nyata ini, terdapat sekumpulan orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai bagian dari sebuah organisasi atau perkumpulan. Sesuai dengan kesamaan visi dan misinya. Sebagai contoh, organisasi sosial, organisasi politik, organisasi siswa, karang taruna, atau organisasi profesi.
Keberadaan organisasi tersebut menyatukan orang per orang, yang semula dalam posisi bebas menjadi terikat. Menjalin interaksi sesama anggota dan menjalankan misi organisasi demi terwujudnya visi organisasi.
Dinamika kelompok senantiasa ada sebagai bumbu masak bagi organisasi itu dalam kegiatannya mencapai keberhasilan tujuan, visi dan misinya. Perbedaan pendapat antar anggota tetap muncul walaupun sudah diantisipasi sedemikian rupa. Keberhasilan organisasi sangat tergantung pada kesadaran masing-masing anggotanya.
Sama seperti hutan belantara. Ada kelompok lebah, kelompok semut, kelompok ular berbisa, kelompok monyet, kelompok rotan, kelompok pinus, kelompok burung, dan berbagai koloni lain. Masing-masing kelompok memiliki ketua atau pimpinan rombongan.
Agar terjaga hubungan antar anggota yang baik, masing-masing kelompok memiliki aturan standar baku masing-masing. Bagaimana mereka tumbuh dan berkembang, bagaimana cara mereka mencari makan, bagaimana mereka menyelesaikan tugas demi kepentingan kelompok. Kita akan belajar mencontoh mereka agar bisa berorganisasi dengan baik.
1. Koloni lebah;
Dalam setiap koloni lebah ada satu Ratu Lebah dan ratusan lebah pekerja. Semuanya baik-baik saja, tidak ada kasus perdebatan antarpekerja atau mogok kerja. Bila ada permasalahan segera diantisipasi bersama. Tugas pokok dan fungsi mereka sudah otomatis harus dilakukan sesuai kodratnya. Mereka rela mengumpulkan madu dari berbagai jenis bunga, agar bisa dimanfaatkan oleh manusia sebagai makanan dan obat. Bila manusia mengambil madu nikmat dari sarang mereka, dengan segera mereka akan mengumpulkan kembali madu-madu lainnya. Tidak ada dendam terhadap manusia.
Pelajaran yang bisa kita petik dari koloni lebah adalah semangat pantang menyerah, tetap berkarya demi mempersembahkan kebaikan madu kepada makhluk lain yang bernama manusia.
2. Serumpun rotan;
Tumbuhnya rotan di hutan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia pada umumnya. Terutama sebagai bahan baku pembuatan perabotan rumah tangga, kursi rotan, meja, dan lainnya. Walaupun dipangkas oleh manusia, tumbuhan rotan ini akan selalu bertunas kembali dan besar. Ketika besar, rotan ini ditebang. Tumbuh lagi, tebang lagi, begitu seterusnya, tanpa dendam. Ikhlas bertumbuh untuk dinikmati orang lain.
3. Mata air yang tak pernah surut.
Banyak sumber-sumber mata air di dalam hutan. Airnya akan mengalir menuruni lembah, menjadi sungai kecil, kemudian mengalir menuju samudera. Dalam proses perjalanan air dari sumbernya menuju samudera, banyak sekali rintangan yang dihadapi oleh makhluk bernama air. Bagaimana sikap air ketika bertemu dengan batu besar, saat menuruni lembah, saat berada di ladang petani, kemudian berkumpul di telaga atau di lautan raya.
Seluruh kejadian pada koloni lebah, serumpun rotan, dan sumber mata air, masing-masing mengisyaratkan pelajaran kepada manusia bagaimana harus bersikap dalam sebuah organisasi. Inti dari pesan mereka adalah berkarya dan menjadi manfaat bagi makhluk Allah di muka bumi ini.
