Bernas.id – Gelar yang tinggi pastilah impian bagi sebagian besar orang. Cita-cita mengenyam pendidikan dengan kualitas terbaik menjadi momok yang dielu-elukan masyarakat. Sarjana menjadi sebuah kebanggaan seseorang. Tak terbatas bagi penerima gelar sarjana, rasa bangga tersebut menular pada kerabatnya yang lain. Sejak dini seorang anak terlanjur ditanamkan dalam lingkungan keluarganya menjadi sarjana.
Di era sekarang ini, tak sedikit orang tua yang menganggap bahwa penyandang gelar sarjana adalah kriteria siap untuk bekerja dengan banyak keuntungan. Entah iming-iming jabatan tinggi ataupun gaji yang memuaskan. Setujukah Anda jika sarjana lebih pantas dipekerjakan dalam bidang kesehatan? Bagaimanakah sebenarnya peluang lulusan diploma dalam dunia pekerjaan terutama di bidang kesehatan?
Perbedaan sarjana dengan diploma memang cukup terlihat jelas. Meski keduanya berasal dari jurusan bidang yang sama tak dipungkiri metode pengajaran yang diberikan pada kedua tingkat pendidikan tersebut juga jelas berbeda.
Pada pendidikan diploma, mayoritas pengajar adalah guru yang memang ahli dalam bidangnya secara praktisi. Sedangkan pada sarjana, pengajar lebih banyak didominasi dengan ahli di sisi teorinya.
Sarjana lebih banyak memakan waktu pendidikan dibandingkan dengan pendidikan diploma. Dalam bidang kesehatan pun sama. Teori lebih banyak diajarkan pada tingkat sarjana.
Lulusan diploma dinilai sebagai jebolan kampus yang siap bekerja. Sesuai dengan realita dunia pekerjaan biasanya dalam bidang kesehatan petugasnya dituntut lebih terampil dalam menyelesaikan rentetan pekerjaannya.
Seorang tamatan diploma lebih diburu rumah sakit atau fasilitas kesehatan pemerintah lainnya sebagai pekerja. Alasannya adalah kemampuan mereka dalam menganalisis titik error penerapan pelayanan kesehatan.
Inilah alasan mengapa lulusan diploma kesehatan lebih diminati dalam dunia pekerjaan. Mereka lebih mumpuni dengan pengalaman praktik yang lebih banyak saat menjalani pendidikan diplomanya.
