Bernas.id – ?Mandi sendiri!? Tetiba si kecil merengek dan maunya membilas badannya sendiri. Pernahkah para ibu mengalaminya? Atau saat si kecil merengek saat Anda memakaikan baju dan bilang, ?Sendiri!?. Si kecil yang Anda rasa baru lahir kemarin, ternyata sudah bisa mengungkapkan ketidaksetujuannya dan lebih mandiri. Galau atau bangga?
Galau jika si kecil malah frustasi karena memang usianya masih terlampau kecil untuk melakukan apa yang dia mau. Usia satu tahun ke atas adalah usia di mana anak mulai mengembangkan kemampuan mengeluarkan emosinya. Menunjukkan rasa tidak suka dan marah, jika tidak diikuti kemauannya. Ini diimbangi dengan kemampuannya mengembangkan kemandirian. Belajar keterampilan hidup atau biasa disebut life skill practical, bisa dengan mudah disisipkan di usia ini.
Namun, dengan emosinya yang belum terkontrol, anak terkadang seperti semaunya sendiri. Misalnya, bermain air di kamar mandi dan akhirnya lama berendam sampai semua bajunya basah. Atau ikut mencuci baju dan menumpahkan sebagian detergen. Anda tak perlu khawatir dengan hal ini, ada Do dan Don?t yang bisa Anda ikuti agar kenyamanan Anda terwujud plus kemandirian buah hati terasah.
Do!
1. Biarkan anak mengembangkan keterampilannya berulang kali
Anak kecil suka sekali mengulang-ulang. Entah itu perkataan atau perbuatan. Begitu juga life skill practical-nya. Apalagi ini dilakukan tiap hari. Berikan ia kesempatan melakukannya. Mau full sendiri atau Anda bisa memberikan bantuan. Namun ingat, tawarkan dulu apa yang dia mau sepanjang tidak berbahaya. Misalnya Anda bisa menawarkan untuk mengambilkan sabun di rak yang tinggi. Atau Anda bisa memberikannya kesempatan untuk mengambil sendiri dengan bantuan kursi. Biarkan ini terjadi berulang kali sampai ia mahir!
2. Tanam stok sabar di bawah sadar
Terkadang, apa yang dilakukan anak membuat Anda senewen. Gimana enggak senewen kalau pekerjaan Anda malah jadi bertambah? Niatnya mau cuci baju, karena anak meminta ikut menuangkan sabun eh malah tumpah semua. Hish! Tapi ingat, apakah dulu Anda juga semahir Anda yang sekarang? Nope, kan? Maka, pandanglah anak Anda seperti Anda dulu. SIapkan stok sabar dengan merapal, ?Aku juga dulu kayak gitu kok?.
3. Sikapi kegagalan anak dengan memeluknya
Setelah detergen tumpah, kemungkinan anak menangis karena merasa dirinya gagal. Anda bingung harus berbuat apa? Gampang, tawarkan pelukan. Pelukan adalah reward gratis yang memberi efek nyaman. So, jangan takut anak menangis dan tak bisa berhenti. Hug me, please!
Don?t!
1. Memarahi anak saat anak gagal, apalagi sebelum memulai
Sebelum anak memegang pekerjaan, Anda sudah berpikir negatif. Sudah marah duluan. Takut anak malah merepotkan. Ini bisa jadi trauma bagi anak. Life skill practical dibangun saat masa-masa emasnya. Jika dari usia segitu aja Anda abaikan, jangan kaget kalau saat besar anak malah malas membantu.
2. Melarang anak membantu
Nah, ini sering terjadi jika para ibu sedang mengejar target kerjaan. Di satu sisi Anda ingin pekerjaan cepat selesai. Namun di sisi lain, anak ingin membantu. Jangan salah, anak nimbrung pekerjaan adalah salah satu fitrahnya berbakti kepada orang tua loh. Masih berani larang?
3. Menghardik anak saat terlihat akan ?bermain?
Anak mengambil sapu dan malah membuat debu-debu berterbangan? Lalu Anda malah meneriakinya? Sebenarnya memang hal itu bisa membuat senewen ibu manapun. Anak seperti terlihat bermain-main. Namun, di balik main-mainnya ini, anak sedang menumbuhkan rasa percaya dirinya memegang sapu. Meniru Anda menyapu dan membantu. Jadi, mau dihardik lagi nggak, nih?
