Bernas.id – Merasa terkatung-katung karena rindu? Ingin bertemu tapi tak bisa? Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena merindu? Yuk, cari tahu bagaimana rindu melenyap dengan menulis! Mengubah rindu menjadi energi positif.
Apa sebenarnya arti rindu? Tak sedikit orang terbelenggu karena rasa rindu itu sendiri. Rindu biasanya sering muncul ketika seseorang yang kita sayangi tidak bisa dijumpai. Merasa sesak karena si dia belum kunjung datang.
Banyak orang yang tak menyadari bahwa rindu tak selamanya tentang satu temu sebagai obat. Terlupa jika rindu terkadang lebih sering merampas banyak waktu. Rindu biasanya menyapa hati seseorang tanpa meminta izin.
Umumnya setiap orang pasti merasakan kerinduan. Entah anak-anak, remaja, dewasa bahkan juga orang-orang yang tergolong lanjut usia merasakan kerinduan kepada cucu cicitnya.
Rindu mampu memberikan dampak buruk bagi sebagian orang yang terlanjur tenggelam pada makna negatif. Seketika merasa kecewa berlarut-larut. Sekian lama bergelut dengan kesedihan yang berkepanjangan.
Konon katanya rindu bisa menyesakkan hati. Tak sekedar sampai di situ, melainkan mampu merusak akal pikiran. Alangkah baiknya jika rindu yang menerpa menjadi pemicu diri untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih positif. Maka sesungguhnya ada cara untuk mengalihkannya.
Yaitu, jadikan menulis sebagai hobi! Kesibukan menulis ternyata sukses mengganti rindu dan menjadi suku cadang energi baru bagi kita.
Tak semua orang mengetahui bahwa rindu adalah rasa yang sebenarnya tidak bisa dicegah. Berusaha menahan tetap saja rindu akan menyelinap dengan lihainya. Mengalir begitu saja melalui celah. Menyulut banyak hati sama rata.
Ada satu tips yang bisa jadi rindu ini hilang dan beralih menjadi rutinitas yang baik bahkan bisa bermanfaat bagi orang lain. Mencari kesibukan adalah salah satunya. Menulis bisa jadi cara kita untuk menggali potensi yang ada pada diri kita. Menuangkan segala pengetahuan dalam bentuk tulisan.
Sejatinya menulis merupakan upaya melatih diri untuk membaca lebih dan lebih lagi. Dengan sibuk membaca maka akan membuka insting untuk menulis. Satu kata dua kata. Satu kalimat dua kalimat. Satu artikel dua artikel. Hingga akhirnya menulis menjadi sebuah kebiasaan.
Rindu itu sampai pupus karena kesibukan kita sendiri. Bahkan bisa jadi malu menghampiri hati dan pikiran kita. Yuk, segera lebur hasrat merindu dengan menulis! Jadikan rasa sesak menjadi motivasi berkelanjutan!
