Bernas.id – Jika kebanyakan anak muda bangga menjadi seorang pegawai di perusahaan migas dengan gaji puluhan juta rupiah, hal ini tidak berlaku bagi Aang Permana. Dia justru merasa bersalah karena menjadi kaya sendiri sementara orang di kampungnya justru banyak yang berada di bawah garis kemiskinan.
Ketika ditugasi ke salah satu daerah di Indonesia, Aang merasa tertegun saat terdapat daerah yang memanfaatkan kekayaan alamnya untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Mereka membuat semacam keripik ikan dan dijual di berbagai daerah untuk menyejahterakan warga. Di saat itu mulai terpikir olehnya jika di tempat tinggalnya juga terdapat ikan sangat potensial saat diolah, meskipun banyak orang yang menganggapnya sebagai ikan yang tak berharga.
Pria kelahiran 1990 ini melirik ikan petek karena potensi ikan ini cukup besar dan belum dioptimalkan oleh masyarakat. Ikan petek yang bernama latin Prambassis ranga tersebut, sering kali terbuang atau hanya menjadi pakan bebek karena bau amis yang sangat menyengat. Apalagi setelah diteliti oleh temannya, ternyata memiliki kandungan kalsium dan protein yang cukup tinggi. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengolah ikan petek menjadi keripik crispy.
Mengingat ikan petek sendiri belum begitu familiar di telinga masyarakat luas, awalnya Aang cukup kesulitan untuk mengedukasi pasar khususnya konsumen di luar Daerah Cianjur. Kerja kerasnya mengedukasi pasar ternyata tak sia-sia. Dengan terus melakukan inovasi baik dari segi rasa maupun tampilan pada kemasan.
?Padahal apa yang saya dapatkan sejauh ini berkat bantuan banyak orang. Berkat pertolongan dan kasih sayang orang. Tapi saya cuma menikmatinya sendiri. Makanya saya berpkir kok hidup saya kurang bermanfaat. Saya ingin hidup ini bukan sekedar untuk diri sendiri tapi sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain,? tutur Aang yang dikutip dalam alumniipb.org
Ia juga mengajak anak muda yang di kota untuk kembali ke desa.?Saya mengajak kepada anak-anak muda yang berasal dari desa, yang sekarang masih tinggal di kota, untuk kembali ke desa. Percayalah desamu lebih membutuhkan kehadiranmu. Ayo pulang ke desa. Desa membutuhkan kehadiran anak muda penerus bangsa.?
Aang kini mungkin bisa menikmati kesuksesannya. Namun melihat ke belakang, ia bukan berasal dari keluarga berada. Apalagi perjalanan Aang untuk lulus kuliah tidak mudah. Sedari kecil Aang bersama keluarga berusaha keras agar Aang tak putus sekolah. Ketika Aang kecil, ayahnya di-PHK dan akhirnya menjadi tukang ban sambil membuka toko kelontong. Agar Aang bisa sekolah harus menggunakan surat keterangan tidak mampu. Aang bahkan tak pernah membeli buku sekolah. Dia selalu meminjam buku pada temannya dan mengerjakan tugasnya di rumah dan besoknya buku tersebut dikembalikan.
Aang pun tak main-main ketika mengenyam pendidikan, hingga dia bisa lulus menjadi wisudawan Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor. Dan ketika lulus langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar.
