Bernas.id – Eksotisme padang sabana menghampar luas, membentuk lingkaran besar mengelilingi letupan-letupan lumpur di dalamnya. Lumpur yang menggumpal membentuk seperti bola-bola yang mengarah ke atas menjulang tinggi. Fenomena yang sangat menakjubkan, klasik, dan unik sepanjang sejarah pariwisata dunia.
Letupan lumpur bisa menyembur dua sampai beberapa meter ke atas, bahkan jika menginjakan kaki di dekat letupan-letupan itu, tanah di sekitar serasa sangat empuk, dan seakan-akan berada di atas trampolin. Masyarakat asli menyebut letupan itu dengan sebutan bledug.
?Bledug Kuwu? merupakan wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Wisata alam yang menyuguhkan panorama yang khas dan anti mindstream. Bledug Kuwu terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Di sana dapat memanjakan mata erkagum-kagum dengan keindahan alam karya Sang Pencipta. Tiket untuk masuk ke dalam tempat wisata sangat murah, hanya dikenakan biaya sebesar Rp4.000,00 saja sudah termasuk parkir kendaraan.
Di pintu masuk juga terdapat beberapa buku yang menceritakan legenda masyarakat tentang Bledug Kuwu yang telah ada beberapa ratusan tahun silam. Hal Ini semakin menambah rasa penasaran dan ketertarikan pengunjung terhadap wisata alam Bledug Kuwu. Di dekat bledug tak ditumbuhi sebatang pohon pun. Justru itulah letak keunikannya, tidak ada tumbuhan yang dapat hidup di dekat lumpur sekitar Bledug Kuwu.
Beberapa faktor seperti tekstur tanah, komposisi tanah, atau jenis tanah yang membuat hal ini terjadi. Para pengunjung banyak yang mengaitkan serta berpendapat bahwa Bledug Kuwu ini merupakan saudara tua lumpur Lapindo yang berada di Jawa Timur bahkan sangat jauh jaraknya.
Wisata alam Bledug Kuwu, juga terdapat pondok-pondok yang digunakan berteduh supaya tidak terpapar panasnya sinar matahari langsung. Para pengunjung biasanya sekedar untuk duduk-duduk sambil menikmati es kelapa muda, yang dijajakan para penjual sekitar tempat wisata ini. Tidak perlu kuatir saat siang hari sedang terik-teriknya sinar matahari, para pengunjung dapat menyewa payung yang telah disediakan pengelola pariwisata dengan membayar beberapa ribu rupiah saja.
Di Bledug Kuwu ini juga terdapat gardu pandang. Gardu Pandang digunakan untuk melihat dari jauh bagaimana letupan-letupan bledug, selain itu dapat digunakan sebagai alternatif bagi para pengujung yang enggan berjalan menuju kawasan utama bledug sambil menikmati keindahan alamnya. Gardu ini berada di sisi utara setelah pintu masuk. Pada sisi selatan disediakan toilet umum yang merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh pengelola pariwisata.
Sumber-sumber mata air asin yang dimanfaatkan para penduduk lokal untuk membuat garam, yang terdapat di sekjitar Bledug Kuwu ini. Air asin yang keluar di tampung dalam kolam-kolam ataupun petak. Tepat berada di kolam tersebut, para petani garam mengambil air asin dengan menggunakan gayung sederhana dari batok kelapa, dan menuangkannya ke bilah-bilah bambu penampung untuk siap dijemur.
Para petani garam memanfaatkan sinar matahari, bahkan tanpa bantuan alat modern apapun untuk menjemur air tersebut. Setelah seharian terpapar sinar matahari, air mengkristal menjadi garam yang sebagian masih tercampur genangan air asin yang belum sepenuhnya mengkristal.
Produk yang dihasilkan tidak hanya garam, melainkan juga bleng bahan khusus untuk membuat kerupuk gendar. Kerupuk gendar ini berbahan dasar nasi yang di masak lagi dengan campuran bleng tadi. Produk yang dapat dihasilkan dari petani garam yakni garam murni itu sendiri, bleng, dan kerupuk gendar. Para petani biasanya menjual di area sekitar Bledug Kuwu. Banyak dari turis mancanegara maupun turis lokal membeli aneka olahan garam dan beberapa oleh-oleh khas Bledug Kuwu ini.
