Bernas.id – Tanaman Stigi atau bahasa latinnya disebut Pemphis acidula, merupakan satu jenis tanaman yang sejak dulu diburu oleh banyak orang, sehingga populasinya hari ini hampir punah. Akhirnya, pemerintah pun melindungi tanaman stigi dari penebangan secara sembarang tanpa tujuan yang legal. Secara geografis di wilayah Indonesia, tanaman stigi bisa ditemukan tumbuh di pantai selatan jawa, ke timur mendekati pulau sulawesi.
Tanaman stigi memiliki ukuran kurang lebih 4 meter dari permukaan tanah dengan batang yang berkelok dan cabangnya tidak beraturan. Bagian dari tanaman stigi yang digunakan orang adalah bagian kayunya. Pada dasarnya kayu stigi ini ada dua jenis, yaitu stigi laut dan darat. Stigi darat, dengan ciri kayu berwarna hitam dengan tekstur kayu yang keras dan kasar.
Stigi laut, dengan ciri kayu berwarna cokelat tua dan tumbuh di pesisir pantai. Kayu stigi dikenal juga dengan beberapa nama lain seperti: santiki, suntugi, mentigi, ataupun mantiggi. Kayu stigi selama ini dikejar orang untuk kemanfaatan yang sebenarnya cenderung keliru atau tidak rasional. Antara lain seperti yang dilansir situs manfaat.co.id, menyebutkan bahwa manfaat kayu stigi dianggap bermanfaat secara supranatural, mistis dan metafisis, antara lain seperti menangkal ilmu hitam, media pengasih dan sejumlah kemanfaatan irasional lainnya.
Padahal fakta yang menarik sebagaimana yang dihimpun dari WAG Asosiasi Griya Sehat Tradisional Indonesia (AGISTI) bahwa berdasarkan studi empiris, tanaman stigi pada bagian kayunya mempunyai potensi bahan aktif berefek farmakologis antivenom (anti bisa ular). Mungkin ada yang bertanya bagaimana membedakan manfaat stigi darat dan stigi laut? sebenarnya fungsi stigi sebagai antivenom berlaku untuk semua jenis hewan berbisa berdasarkan habitat hidup hewan terebut. Maksudnya, stigi darat bermanfaat untuk pengobatan bisa hewan darat, sementara stigi laut bermanfaat untuk pengobatan bisa hewan laut.
Tahukah anda, jenis tanaman obat yang mempunyai potensi ?anti bisa? ternyata juga berpotensi sebagai anti radikal bebas? Ya, memang demikian, karenannya kayu stigi bisa juga digunakan untuk media pijat. Sebagaimana tanaman anti radikal bebas yang lain seperti: kunir putih, dan daun dewa atau umbi dewa, tanaman stigi juga mempunyai efek farmakologis anti radikal bebas, anti tumor, anti kanker, anti koagulan dan lain-lain. Namun, untuk pemanfaatan dengan cara oral masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Sejauh ini penelitian empiris membuktikan manfaat kayu stigi di atas bisa diperoleh dengan cara menggunakannya secara topikal yaitu langsung dengan menggunakan kayunya pada luka karena bisa. Cara memanfaatkan kayu stigi bisa dilakukan sebagai berikut: buat potongan persegi, cincin, gelang, kalung dan tasbih sesuai model yang dikehendaki secara teknis bila anda ke hutan belantara yang rawan ular ataupun hewan berbisa lainnya, sementara saat yang sama jarang ditemui bahan untuk sediaan obat.
Maka sebaiknya anda menyediakan kayu stigi ini. Satu hal yang menarik untuk anda ketahui, dalam kaitannya dengan hewan berbisa. Ternyata para praktisi ular secara tradisional pun minum air perasan kunir putih dan daun dewa untuk menangkap ular. Keterampilan pawang ular berbisa selama ini di masyarakat awam diyakini alias diduga menggunakan unsur ilmu mistik padahal terbukti kebanyakan mereka menggunakan tumbuhan obat antivenom. Mungkinkah anda termasuk yang berminat berburu tanaman ini?
