Bernas.id – Pada masa kini, kaus kaki hampir tidak berfungsi apa-apa selain sebagai penutup kaki sebelum mengenakan sepatu. Namun siapa sangka, kaus kaki punya sejarah panjang. Pakaian pembungkus kaki yang telah digunakan manusia sejak zaman batu ini, pernah disebut dalam puisi kuno Yunani, menjadi penanda status sosial, hingga simbol kesucian. Berikut beberapa fakta tentang kaus kaki yang mungkin belum Anda ketahui:
1. Dikenakan Manusia Sejak Zaman Batu;
Oleh banyak sejarawan, kaus kaki dianggap sebagai salah satu pakaian tertua di dunia. Pasalnya, manusia telah mengenal pembungkus kaki yang terbuat dari kulit serupa kaus kaki sejak zaman batu. Orang-orang pada masa itu mengenakan pembungkus kaki untuk melindungi kaki dari suhu udara yang dingin. Pasalnya, kaki adalah salah satu bagian tubuh yang mudah terpapar suhu udara dingin.
2. Kaus Kaki Tertua yang Berhasil Ditemukan Berasal dari Mesir;
Sepasang kaus kaki tertua di dunia berhasil ditemukan di Mesir. Kaus kaki yang dibuat dengan teknik sulam tersebut diperkirakan berasal dari tahun 300 hingga 500. Keduanya kini menjadi koleksi Victoria and Albert Museum di London. Menurut informasi yang dihimpun pihak museum, kaus kaki tersebut ditemukan di sebuah areal pemakaman kuno di Oxyrhynchus, sebuah koloni Yunani di sekitar Sungai Nil, pada akhir abad ke-19. Kaus kaki itu kemudian diberikan kepada museum pada tahun 1900.
3. Disebut Dalam Puisi Tahun 700 Sebelum Masehi;
Dalam peradaban Yunani kuno, kaus kaki dikenal dengan nama piloi. Piloi adalah pelindung kaki yang dibuat dari kulit binatang. Keberadaan piloi terekam dalam sebuah puisi kuno yang ditulis Hesiodus berjudul Erga kai Hemerai yang berarti Kerja dan Hari. Dalam puisi yang ditulis pada tahun 700 sebelum Masehi itu, Hesiodus memberi saran kepada sudaranya, Perses untuk melindungi dirinya dengan kaus kaki. ?Di sekitar kakimu, ikatlah sandalmu, dan di bawahnya pakailah piloi,? tulis puisi tersebut.
Catatan tentang kaus kaki dalam puisi Hesiodus tersebut dikuatkan oleh beberapa temuan arkeologis yang membuktikan bahwa pasukan Yunani menggunakan kaus kaki di bawah sandal mereka untuk melindungi diri dari suhu udara dingin. Selain itu, kaus kaki juga dikenakan oleh pasukan Roma dengan cara dan tujuan yang sama.
4. Penanda Status Sosial Hingga Penanda Kesucian;
Jika di Yunani dan Romawi kuno kaus kaki digunakan lebih karena fungsinya untuk melindungi diri dari suhu udara yang dingin, ada sebagian warga Eropa pada abad ke-5 yang mengenakan kaus kaki sebagai penanda status sosial. Kaus kaki hanya dikenakan oleh orang suci, untuk menunjukkan kesucian mereka. Kaus kaki tersebut bernama puttees.
Setidaknya hingga tahun 1000 kaus kaki masih menjadi objek menonjol dalam kehidupan sehari-hari yang menyimbolkan status sosial dan ekonomi seseorang. Seseorang yang mengenakan kaus kaki dianggap memiliki tingkat kemakmuran yang lebih baik ketimbang yang tidak mengenakannya.
5. Menjadi Pakaian Umum Setelah Bisa Diproduksi Massal.
Fungsi kaus kaki berubah seiring ditemukannya mesin penyulam benang pada tahun 1589. Mesin ini memungkinkan produksi kaus kaki lebih cepat dan lebih banyak ketimbang sebelumnya ketika pembuatan kaus kaki dikerjakan oleh tenaga manusia. Bahan baku kaus kaki baru berupa nilon yang diperkenalkan pada tahun 1938 juga membawa perubahan baru pada produksi kaus kaki, seperti kita kenal hingga hari ini.
