Bernas.id – Sekitar tahun 1998, garasi dan teras rumah sederhana disulap menjadi tempat menaruh koleksi buku bacaan. Kala itu, tempat ini menjadi tempat belajar para anak-anak di Desa Cilowang, Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang, Banten. Seorang penulis dengan nama asli Heri Hendrayana Harris yang lebih dikenal dengan Gol A Gong (dulu ditulis Gola Gong) yang menginisiasi rumah literasi tersebut.
Cerita di balik tangannya yang diamputasi terjadi saat dia berusia 11 tahun kehilangan tangan kirinya. Itu terjadi saat dia dan teman-temannya bermain di dekat alun-alun Kota Serang. Saat itu sedang ada tentara latihan terjun payung. Dia menantang teman-temannya untuk adu keberanian seperti seorang penerjun payung. Tantangan tersebut adalah melompat dari pohon di pinggir alun-alun. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin di antara mereka. Kecelakaan yang menyebabkan tangan kirinya harus diamputasi itu tidak membuatnya sedih. Bapaknya menegaskan kepadanya, “Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang dan lupa bahwa diri kamu itu cacat.“
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
Sebelumnya, Banten lekat dengan stigma jawara, teluh, santet, pelet, dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif. Sehingga Gol A Gong ingin mengubahnya dimulai dari teras rumahnya. Gagasan Rumah Dunia, sebutan akan tempat tersebut mulai bersemi ketika ia dan beberapa rekannya kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung tahun 1982. Bersama beberapa kawannya, ia membuat suatu perjanjian untuk membuat perubahan kala sudah berkecukupan.
Gol A Gong yang tidak menamatkan kuliahnya di Jurusan Sastra Indonesia Unpad, memilih mengasah keterampilan dalam menulis. Ia terdorong untuk memulai perubahan terlebih dahulu mengingat dirinya mempunyai modal berupa perpustakaan milik keluarga. Embrio Rumah Dunia berawal dari perpustakaan keluarga. Harris Sumantapura, ayahnya yang pensiunan guru sekolah pendidikan guru (SPG), mempunyai banyak koleksi buku, majalah, dan bahan bacaan lainnya.
Baca juga: Bagaimana Cara Membuat Teks Persuasif Sesuai Jenis dan Strukturnya?
Awalnya, perpustakaan ini hanya berupa koleksi buku yang ditumpuk pada satu rak sepatu di sebuah kebun terbuka. Bersama istrinya, Asih Purwaningtyas Hasanah atau lebih akrab disapa Tyas Tatanka, dan dibantu beberapa relawan lainnya, ia mengelola Rumah Dunia dengan menawarkan berbagai kegiatan 'wisata'. Kemasan ini dimaksudkan agar kegiatan baca tulis itu memikat anak-anak dan remaja yang meliputi: baca dan dongeng, wisata gambar, wisata tulis, dan ada juga wisata lakon.
Hal tersebut dipilih agar kesan serius sebuah perpustakaan berganti dengan kesan ramah dan kuat aroma bermainnya. Kegiatan ini mulai menarik perhatian anak-anak kecil dan remaja yang berada di sekitar Rumah Dunia. Setiap sore mereka bermain ke sini untuk membaca sambil mendapat berbagai pengetahuan tambahan. Ruang literasi ini adalah impian kawan-kawan sesama pencinta literasi, Gol A Gong, Toto S.T. Radik, dan Rys Revolta (almarhum).
Rumah Dunia diresmikan oleh Hj. Cucu Munandar, istri Gubernur Banten, Djoko Munandar. Melalui Rumah Dunia, Gol A Gong melakukan semacam gerakan dekonstruksi kultural dengan memberi makna baru pada kosakata lokal yang mengandung makna pejoratif. Salah satu contohnya adalah kata 'jawara'. Dengan menggunakan kata tersebut sebagai nama toko buku, Kedai Buku Jawara, ia mencoba agar stigma 'jawara' yang sering identik dengan kekerasan dan pemerasan berubah makna menjadi 'gudang ilmu'.
Selain itu, penamaan kegiatan dengan istilah seperti 'gonjlengan wacana', 'tawuran seni', dan lain-lain. Dalam konteks itu, kata 'gonjlengan' yang semula hanya berarti kumpul-kumpul sambil makan ayam berubah menjadi diskusi seni, budaya, dan pendidikan yang hangat dibicarakan di media massa. Kata 'tawuran' pun berubah makna menjadi pertemuan dua sekolah atau perguruan tinggi yang menampilkan pertunjukan sastra dan teater.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
