Bernas.id – Dengan menggunakan metode baru, seorang dokter kini bisa melihat kerusakan mata pasien dengan sangat detail. Termasuk kerusakan mata yang timbul akibat melihat gerhana matahari secara langsung. Jurnal ilmu penglihatan JAMA Ophtalmology baru-baru ini memublikasikan sebuah hasil pemeriksaan kerusakan mata yang terjadi pada seorang gadis berusia sekitar 20 tahun di Amerika Serikat. Mata gadis tersebut mengalami kerusakan setelah melihat gerhana matarhari total yang terjadi 21 Agustus silam.
Sebagaimana dilaporkan jurnal tersebut, gadis itu mengaku telah melihat gerhana matahari dengan mata telanjang selama sekitar enam detik dengan kedua mata terbuka. Ia baru mengenakan kaca mata pelindung beberapa saat setelahnya. Dengan kacamata itu, ia mengaku melihat gerhana matahari sekitar 15 hingga 20 detik. Tempat gadis itu melihat gerhana matahari sendiri bukanlah lokasi gerhana matahari total terjadi. Di sana, gerhana hanya menutupi matahari sekitar 70% matahari, sehingga cahayanya sangat mungkin menimbulkan kerusakan pada mata.
Gadis itu mengaku bahwa empat jam setelah melihat gerhana matahari penglihatannya menjadi kabur. Ia juga menjadi tidak jelas melihat warna. Gejala lebih buruk terjadi pada mata kirinya, di mana ia seperti melihat titik hitam yang tidak kunjung hilang. Singkat cerita, ia memeriksakan matanya ke dokter tiga hari kemudian. Dokter mengatakan bahwa gadis itu mengalami retinopathy atau luka retina mata akibat terpapar cahaya matahari langsung.
Retinopathy terjadi ketika cahaya terang dari matahari merusak retina dan menyebabkan kaburnya penglihatan atau titik buta pada salah satu atau kedua mata. Retinopathy pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga banyak orang tidak menyadarinya.
Melihat Jauh ke Dalam Mata
Sebelumnya, dokter jarang menemukan pasien dengan gejala retinopathy akibat matahari. Selain karena gerhana matahari jarang terjadi, belum ada juga teknologi yang memungkinkan dokter untuk melihat kondisi tersebut secara detail. ?Kami jarang melihat kerusakan mata karena gerhana matahari, karena peristiwa itu jarang terjadi dan kami tidak memiliki teknologi untuk memeriksa retinopathy secara lebih detail,? kata Dr. Avnish Deobhakta, asisten profesor ophtalmology di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, sebagaimana dikutip dari Live Science.
Namun, teknologi baru bernama adaptive optics memungkinkan hal tersebut. Teknologi yang baru-baru ini dikembangkan itu memungkinkan dokter dan peneliti melihat jauh ke dalam mata untuk menemukan kerusakan yang terjadi. Dengan teknologi ini, para dokter dapat melihat struktur mikroskopis dari mata pasien dengan tingkat kedetailan tinggi secara real time.
Pemeriksaan menggunakan adaptive optics juga dilakukan pada gadis Amerika Serikat yang menjadi subjek penelitian dalam jurnal JAMA Ophtalmology. Hasilnya, dokter menemukan lubang bekas terbakar di kedua retinanya. Pada mata kiri gadis itu juga terbentuk titik putih. Selain itu, ada juga bagian mata yang mengalami penurunan sensitivitas.
Teknologi adaptive optics diharapkan akan banyak membantu dokter dalam menentukan tindakan medis yang tepat pada pasien retinophaty berdasarkan pemetaan kondisi retina secara lebih detail yang sebelumnya mustahil dilakukan.
