Bernas.id – Jika sebelumnya sudah dibahas tentang tradisi Golok-golok Menthok di kota Kudus, kali ini ada juga tradisi Kebo Ketan yang tidak kalah uniknya dari Golok-golok Menthok. Tradisi kebo ketan sendiri merupakan acara budaya tahunan salah satu desa di Ngawi Jawa Timur, lebih tepatnya di desa Sekarputih. Pada tahun ini tradisi ini akan diadakan pada tanggal 1, 2 dan 3 Desember 2017. Namun wiwitan upaca Kebo Ketan ini pun sudah diselenggarakan pada tanggal 24 mei 2017 lalu, yang bertempat di rumah tua Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.
Wiwitan atau pembukaan upacara Kebo Ketan ini diadakan dengan tujuan untuk mengonsolidasikan perhatian dan dukungan masyarakat menuju penyelenggaraan upacara Kebo Ketan yang akan dilaksanakan pada tanggal 1, 2 dan 3 Desember 2017.
Nah, sebenarnya apa sih Kebo Ketan itu? Kebo Ketan merupakan sebuah karya seni kejadian atau heppening art yang diprakarsai oleh Bramantyo Prijosusilo dan dikerjakan oleh perkumpulan LSM Kraton Ngiyom yang berlandaskan pancasila dan UUD ?45 yang bertujuan untuk menguatkan kohesi sosial guna menyelesaikan persoalan-persoalan ekologi dan budaya, khususnya menyangkut masalah tanah dan air.
Upacara ini dilakukan sebagai simbol penyadaran dan kesadaran bahwa untuk memuliakan tanah dan air serta menguatkan suatu masyarakat, kita semua harus bersedia untuk berkorban. Oleh karena itulah upacara ini mengorbankan Kebo Ketan, di mana dalam prosesinya kita akan diberikan pengalaman bernilai etika dan estetika.
Upacara Kebo Ketan tahun ini mengambil tema Penawar Racun Divide Et Impera yang puncak acaranya bertepatan pada hari Minggu, 03 Desember 2017. Upacara kebo ketan ini akan diawali dengan proses memandikan atau dikenal dengan istilah guyang (bahasa Jawa) sang kebo ketan tersebut di Sendang Margo, lalu masuk alas Begal setelah diarak sejauh 9 km bersama rombongan musik trethek, dan kelompok Sendika Dawuh dari Sragen, Jawa Tengah.
Sesuai dengan susunan acaranya, upaca tersebut akan berakhir pada tanggal 04 Desember 2017 yang ditandai dengan pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh dalang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta. Dan pada acara puncak Kebo Ketan ini pun didukung oleh kurang lebih 873 seniman dari berbagai latar seni yang datang dari berbagai daerah.
Setelah prosesi guyang Kebo Ketan selesai, malam harinya di lapangan Sekarputih akan ada penampilan tari sufi dan musik hadrah lokal sebagai acara pembuka oleh kelompok musik dakwah Ki Ajeng Ganjur, pimpinan Dr Zastrouw Al Ngatawi. Dan keesokan harinya, Sang Kebo Ketan di dalam tandu untuk diarak ke Lapangan Desa Sekarputih, dengan diiringi berbagai kesenian arak-arakan dari berbagai kabupaten yang mendampaki atau didampaki oleh Bengawan Solo dan berkenan menyumbang upacara. Selain itu, juga diiringi satu atau dua bregada pasukan tradisional dari Kraton Yogyakarta, dan dikawal kelompok seni budaya Sekar Pangawikan dari Yogyakarta, sejauh 3 km sehingga sampai ke Lapangan Desa Sekarputih. Dan masih banyak pula serangkaian adat yang akan dilakukan setelahnya.
Sebagaimana tradisi pada umumnya, pada upacara Kebo Ketan ini pun terdapat beberapa kuliner khas, yaitu wajik ketan berwarna merah gula dan jadah putih sebagai makanan khas, selain urap ingkung dan kelengkapan bancakan (selamatan) pada umumnya. Kuliner khas berwarna merah-putih yang terbuat dari ketan tersebut mengadung makna simbolik terkait warnanya, dan juga terkait bentuk fisik ketan serta asosiasi bunyi namanya. Ketan, mudah diasosiasikan dengan keraketan, maka hidangan ketan dalam warna merah putih mengandung makna doa permohonan di dalam bentuk makanan. Semacam doa agar segenap warga negara hidup di dalam kehangatan dan perlindungan komunitas-komunitas yang erat, saling asih saling asuh dan saling asah, sehingga menjadi Penawar Racun Divide Et Impera.
Selain itu upacara Kebo Ketan ini pun di dasarkan pada sebuah mitos perkawinan Kodok dengan dhanyang Sendang Margo, yang bernama Setyowati. Diawali pertemuan saat Kodok melanggar tabu di sungai Alas Ketangga yang dikeramatkan di Ngawi, berlanjut dengan perkawinan pada saat malam purnama. Perkawinan antara manusia dengan mahluk halus itu dikaruniai anak kembar dampit yang oleh Kodok diberi nama Jogo Samudro dan Sri Parwati. Kemudian Ratu Kidul memerintahkan agar kedua anak pewaris kerajaan mahluk halus Kraton Ngiyom itu menjalani pendidikan karakter dengan menjalani tradisi ngenger. Ngenger adalah mekanisme edukatif tradisional di mana anak diterima sebagai bagian dari keluarga besar dengan tugas dan tanggung jawab membantu penyelenggaraan rumah tangga keluarga yang dingengeri itu, dengan imbalan belajar segala macam ilmu tergantung yang dimiliki keluarga yang diikuti.
Terlepas dari benar dan salahnya mitos tersebut, selama masih dalam tahap wajar dan positif, sudah sepantasnya kita mengapresiasi dan melestarikan tradisi dan budaya tersebut. Jika bukan kita yang melestarikan tradisi dan budaya tersebut, maka siapa lagi?
Untuk Anda yang penasaran dan belum sempat melihat prosesi upacara Kebo Ketan di tahun ini, kamu bisa berkunjung dan melihat prosesinya tahun depan.
