Bernas.id ? Seorang pramuniaga di Virzha Collection Cilacap, Isnaeny, mengungkapkan, ?Bedanya laki-laki sama perempuan kalau beli baju. Perempuan pilih-pilih model, jenis bahan, warna, ukuran. Cek satu-satu takut ada yang sobek, terus nawar atau minta diskon. Pokoknya, milih satu potong baju bisa sampai hampir satu jam. Laki-laki langsung nunjuk, bayar, selesai.?
Pernyataannya sangat masuk akal. Karakter pembeli laki-laki dengan perempuan memang sangat berbeda. Anak-anak ataupun usia lanjut, karakternya pun jauh berbeda. Pemahaman terhadap pembeli tidak hanya berdasarkan usianya. Termasuk hal penting untuk dipahami adalah sifat-sifat dan kepribadiannya. Karakteristiknya bisa kita lihat sebagai berikut:
Pembeli santai;
Mereka terlihat nyaman di tempat perbelanjaan. Berkeliling stand mengamati display barang, memegang dan melihat-lihat dengan santai.
Pembeli serius;
Penampilan tegas dan formal, tidak banyak cakap, tidak bertele-tele. Biasanya masih mengenakan seragam kerja. Cara memegang dan mengamati barang cenderung teliti dan seksama.
Pembeli tergesa-gesa;
Mereka datang dalam kondisi panik, nafas memburu, bicaranya cepat. Pembeli tipe ini tidak sabaran dan terkadang disertai amarah.
Pembeli iseng;
Ciri khasnya adalah sering menggoda. Dia mengajak bercanda, banyak bicara dan tidak fokus dalam memilih barang. Tampak hanya berjalan-jalan dari stand satu ke stand lain dalam waktu singkat.
Pembeli cerewet;
Pembeli tipe ini mendominasi sepanjang komunikasi dengan pramuniaga. Selalu berkomentar terhadap barang yang ditawarkan.
Pembeli pemarah;
Raut muka tidak ramah saat datang ke stand. Mudah tersinggung, menggerutu, suka mengeluh, sensitif, suka marah untuk sebuah kesalahan kecil. Barang atau jasa yang Anda tawarkan serasa tidak ada yang cocok untuknya.
Pembeli acuh tak acuh;
Pembeli tipe ini tidak menghiraukan pramuniaga. Berjalan keliling stand, tidak mau menjawab sapaan. Dia asyik memilih dan memilah barang kemudian membawanya ke kasir. Tanpa menoleh sedikitpun kepada Anda.
Pembeli pengkritik;
Raut muka cenderung serius, teliti dalam memilih barang. Muncul celaan atau kritikan terhadap hal-hal kecil, apa saja: barang bercorak kuno, rak ketinggian, seragam karyawan kurang bagus, AC kurang dingin, lantai licin kurang bersih.
Pembeli mencurigakan;
Pembeli datang matanya tidak fokus. Jalannya santai ke sekeliling stand namun tidak memiliki tujuan memilih barang.
Pembeli penuntut;
Dia menuntut kesempurnaan barang. Tidak mau ada cacat pada fisik barang. Tidak mau disalahkan apabila ada kerusakan atau ketidakcocokan. Tetap memaksa minta tukar meskipun barang itu pilihannya sendiri dan sudah dibayar.
Pembeli pendiam/pemalu;
Ciri khasnya berjalan santai dan langsung menuju stand. Tidak mau didampingi saat memilih barang, dan tidak suka ditemani. Jika dia butuh bantuan baru dia akan panggil pramuniaga. Berbicara setengah berbisik. Jika ditawari atau dipilihkan barang tidak langsung diterima juga tidak langsung ditolak.
Pembeli ragu-ragu;
Jika sudah menemukan barang yang dibutuhkannya, dia menunda pembayaran. Dengan cara membawa barang itu berkeliling stand sambil melihat-lihat barang lainnya. Terkadang seorang pembeli datang kembali mengambil barang yang tadi ditinggalkannya.
Pembeli siap mental;
Dia mau membeli barang yang dalam kondisi keterbatasan, apa adanya. Sebenarnya beresiko tinggi terhadap ketidakcocokan. Namun pembeli menyatakan dia bersedia menerima segala resikonya. Misal ada sedikit kecacatan, kotor, atau mendekati kedaluwarsa.
Pembeli yang sombong;
Cara berjalan, gaya bicara, agak membanggakan diri. Dia bercerita pernah menggunakan merk terkenal. Dia tidak mau beli barang murah walaupun kualitas bagus.
