Bernas.id – Anak kamu sekolah dimana? Itulah yang sering menjadi pertanyaan ketika para orangtua bertemu. Dan akan dengan bangganya ketika sang anak sekolah di sekolah favorit. Satu hal yang jadi pertanyaan, sekolah favorit yang dimasuki anak kita benar-benar pilihan anak atau kah pilihan orangtua? Tidak jarang, saat mendekati tahun ajaran baru, orangtua lah yang paling heboh hunting sekolah.
Anak-anak diarahkan untuk ikut survei ke sana kemari, di tengah waktu yang kadang dipaksakan orangtua. Dengan alasan mumpung orangtuanya cuti atau libur dari kantor. Bagaimana hasilnya, akankah anak bisa nyaman ketika intervensi dalam pemilihan sekolah dikuasai orangtuanya?
Ada suatu kejadian traumatis yang akhirnya terjadi ketika proses pemaksaan ini berlangsung tanpa kompromi. Sebut saja Ahmad, sejak sekolah di sekolah Islam dia berkeinginan melanjutkan ke SMA Negeri. Dia belajar dengan sungguh-sungguh demi bisa meraih nilai tinggi di setiap kelasnya. Dan usahanya pun berhasil, dia menjadi siswa berprestasi, selalu menjadi bintang kelas. Bayangan bisa melanjutkan ke SMA negeri favorit akhirnya kandas, karena orangtuanya menghendaki dirinya tetap masuk pesantren. Dengan alasan orangtua sangat khawatir dengan pergaulan yang terjadi di usia remaja Ahmad.
Ahmad pun terpaksa menuruti nasihat orangtuanya, tetapi minta pindah pesantren. Masuk ke pesantren dengan hati yang masih berat meski suasana pesantren yang baru. Orangtuanya pun rajin berkunjung dan memenuhi segala kebutuhan yang terbaik, dengan maksud agar Ahmad nyaman. Sekian lama dijalani, Ahmad tetap masih teringat obsesinya sekolah idamannya. Yang terjadi saat di pesantren dia menjadi pribadi yang pemurung dan malas untuk bersosialisasi dengan temannya. Berbeda jauh dengan saat dia di SMP, senang bergaul, energik dan bahkan suka membuat lelucon di tengah teman-temannya.
Puncak kejadian pun terjadi, pada suatu malam Ahmad kabur dari pesantren dengan mengendap-endap lompat pagar tembok pesantren. Hanya berbekal beberapa ribu rupiah, di malam yang kelam dia berjalan menyusuri perkampungan dan perkebunan, karena lokasi pesantren yang memang agar terpencil dari keramaian. Dia berjalan berpuluh kilometer menuju terminal agar bisa pulang ke rumahnya. Sampai rumah pun orangtuanya kaget mendapati anaknya nangis dan berulangkali tidak mau lagi kembali ke pesantren.
Dari cerita nyata di atas, kita sebagai orangtua bisa mengambil pelajaran berharga, bahwa orang tua tidak boleh terjebak untuk memilih sekolah bagi anaknya. Jika orangtua memaksa anak menuruti kehendaknya, biasanya sejak awal anak kurang bergairah dalam belajar. Akibatnya anak kurang konsentrasi sehingga bisa berakibat tidak berhasilnya sang anak mewujudkan idealismenya.
Terkadang dalam pemilihan jurusan perkuliahan di kampus pun, orangtua masih mendikte anak. Ada orangtua ingin anaknya menjadi dokter, tapi sang anak ingin menjadi arsitek. Maka jika dipaksakan sang anak menjalani perkuliahan dengan terpaksa, semangat belajar juga lemah dan merasa tidak menjadi dirinya sendiri. Dan jika terus-menerus dalam keadaan terpaksa, tidak menutup kemungkinan anak akan stres. Yang fatalnya anak akan DO bahkan menjadi mahasiswa yang asal-asalan dalam kuliah.
Jadi, biarkan lah sang anak ikut mendesain masa depannya. Tugas orangtua tinggal mengarahkan dan mendukungnya ketika pilihan anak adalah baik.
