Bernas.id – Nama Maria Tri Sulistiyani, mungkin asing bagi kita. Tetapi bila kita menyebutnya dengan nama Ria Papermoon, akan lebih akrab dan terbayang sesosok permpuan sederhana berusia 37 tahun yang memiliki kecintaan kepada seni dan boneka.
Boneka memang tidak bernyawa, tetapi di tangan Ria dan suaminya Iwan Effendi, boneka-boneka berbentuk manusia ini seolah hidup dan dengan manis dapat menceritakan kisahnya. Perpaduan antara musik, set panggung dan ?akting? boneka-boneka mereka, selalu berhasil membuat terpukau penonton yang hadir. Padahal boneka itu tidak bicara, hanya bergerak dengan sedikit narasi di awal cerita.
Tidak heran, mereka sering kali diundang untuk tampil di mancanegara dan mementaskan karya mereka. Pada akhir tahun 2015, Ria dan Iwan diundang oleh University of New Hampshire untuk mengajar selama tiga bulan. Mereka menagajar tentang teater boneka kepada mahasiswa. Tidak hanya filosofi tentang teater boneka, Ria dan Iwan juga mengajarkan cara membuat boneka-boneka yang biasa dibuat dan digunakan oleh Papermoon Puppet Theatre.
Untuk yang masih membayangkan seperti apa penampilan boneka boneka dalam teater ini, sedikit flashback ke film AADC2 yang menampilkan theater mereka di adegan Cinta dan Rangga. Pementasan boneka di Papermoon Puppet Theatre ini, berbeda dengan pertunjukan wayang kulit atau wayang golek yang memiliki seorang dalang untuk menghidupkan tokoh dan karakter wayang. Di panggung Papermoon Puppet Theatre, satu tokoh boneka Papermoon didalangi satu sampai tiga orang. Sehinga ketika suatu pertunjukan berlangsung, akan banyak dalang terlibat di atas panggung tersebut.
Gerakan boneka mereka, sangat mirip dengan gerakan manusia. Cara-cara melangkah, duduk, kebiasaan-kebiasaan kita bisa ditampilkan dengan sangat luwes oleh boneka mereka. Boneka-boneka mereka bisa menampilkan sosok dalam karakter tokoh dengan sempurna dan menunjukan sebuah hasil karya seni tingkat tinggi
Pencahayaan, tata busana, musik yang dihadirkan tidak berbeda dengan pertunjukan teater yang sebenarnya. Ria sendiri tidak menampik, ketenarannya saat ini di Indonesia, tidak lepas dari film AADC2. Walaupun sebenarnya teater ini sudah lahir sejak tahun 2006. Kecintaannya kepada dunia seni, membawanya untuk tampil di luar negeri, memberikan sumbangsih besar dalam dunia seni Indonesia dan juga mengharumkan nama Bangsa Indonesia.
