SLEMAN, BERNAS.ID – Di tengah perayaan Hari Seni Sedunia, puluhan orang datang ke Studio Kalahan, Rabu (15/3/2026) dengan kostum, atribut, dan simbol yang tampak unik. Ada yang mengenakan sayap, pakaian profesi masa kecil, hingga benda-benda yang menyerupai fragmen mimpi. Namun justru dari “keganjilan” itulah SBG (Sehari Boleh Gila) 2026 kembali menghidupkan satu hal yang kerap terlupakan manusia dewasa: mimpi masa kecil sebagai sumber paling jujur dari kreativitas.
Bagi Prof Drs, M. Dwi Marianto, MFA. PhD mimpi masa kecil bukan sekadar nostalgia, melainkan arsip batin yang terus hidup dalam hati, pikiran, dan kalbu manusia.
“Setiap orang punya mimpi masa kecil yang mendiami hati, pikiran, dan kalbu sang pemilik. Mimpi itu tak pernah bosan merengek, merajuk, minta disapa dan diindahkan; berperan sebagai juru rekam dan pencatat sejarah tuannya. Maka, mimpi masa kecil itu penting, mata air ide, tak ternilai harganya,” ujar Dwi.
Gagasan itulah yang menjadi landasan tema Spiritual Anarchy dalam SBG 2026. Para peserta hadir dengan busana dan atribut yang berkait dengan mimpi atau keinginan masa kecilnya, lalu secara bebas mengaktualisasikannya melalui simbol, metafor, tanda, maupun kombinasi elemen bahasa visual lainnya. Tujuannya bukan sekadar bermain imajinasi, tetapi membongkar endapan memori, mengarikaturisasi trauma menjadi energi kreatif, dan mentransformasikan masa lalu menjadi kesadaran baru.
Koordinator kegiatan, Lejar Daniartana Hukubun, menyebut forum ini sebagai ruang eksplorasi yang terus relevan bagi perkembangan seni dan kebudayaan.
“Sehari Boleh Gila dapat menjadi salah satu media eksplorasi untuk menghasilkan kebaruan kreatif. Dalam situasi yang memberi kebebasan penuh, orang sering menemukan lapisan paling autentik dari dirinya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pertunjukan atau parade ekspresi, SBG telah menjadi ruang kebudayaan alternatif yang bertahan hampir dua dekade.
Insanul Qisti Barriyah, pelaku seni sekaligus salah satu penggagas kegiatan, mengingat kembali bagaimana forum ini pertama kali dirintis bersama Prof. Dwi pada 2007.
“Kami ingin menghadirkan seni sebagai ruang yang membebaskan manusia untuk kembali bertemu dengan dirinya yang paling awal: mimpi masa kecil, ingatan yang lama tertimbun, bahkan trauma yang bisa diolah menjadi energi kreatif,” kata Insanul Qisti Barriyah.
Baca juga: ARTJOG 2024 Sajikan Karya Spesial Agus Suwage dan Titarubi
Seniman Heri Dono melihat perhelatan seperti SBG memiliki arti penting dalam konteks perkembangan seni rupa Indonesia hari ini. Menurutnya, acara ini merupakan statement penting untuk menegaskan kembali parameter seni rupa Indonesia di tengah kecenderungan praktik seni kontemporer yang semakin mengerucut pada nilai singular.
“Kehidupan kontemporer justru ditandai oleh kemajemukan, tetapi perkembangan seni sering bergerak ke arah yang sebaliknya, lebih tunggal dan menyempit,” ujar Heri Dono.
Ia mengingatkan bahwa eksplorasi seni dewasa ini kerap mengalami stagnasi karena masih terjebak dalam narasi seni modern yang mapan. Akibatnya, dimensi localness, pembacaan global, dan ruang inventiveness sering terabaikan, sementara banyak perhelatan seni hanya berhenti pada level seremonial.
Dalam konteks itulah SBG menemukan relevansinya: menghadirkan seni sebagai ruang inventif yang memberi kebebasan bagi seniman dan publik untuk mencari antitesis, formula kreatif, dan kemungkinan estetik yang baru.
Tema mimpi masa kecil tahun ini juga memberi penekanan pada seni sebagai praktik mindfulness dan transformasi batin. Masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi dihadirkan kembali untuk dimaknai ulang sebagai sumber ide, keberanian, dan kemungkinan baru, untuk dilahirkan kembali menjadi mimpi baru.
Di tengah kehidupan sosial yang semakin serba cepat dan rasional, forum seperti SBG menjadi pengingat bahwa kreativitas sering lahir dari keberanian untuk sesaat “gila”: keluar dari kebiasaan, membiarkan imajinasi bekerja, dan memberi tempat bagi sisi manusia yang paling polos namun paling visioner.
Selama hampir 19 tahun, SBG terus menunjukkan bahwa seni tidak selalu harus dimulai dari kanvas atau galeri. Kadang ia justru lahir dari sesuatu yang lebih sederhana—mimpi masa kecil yang diam-diam masih tinggal di hati manusia dewasa. (den)
