Bernas.id – Perbincangan sesama rekan kerja saat berkumpul di satu meja adalah hal yang biasa terjadi. Saat tak sengaja berpapasan di kantin pun tak jarang celoteh antar teman terjadi. Membicarakan banyak hal mulai dari tugas dari bos, aktivitas favorit sampai hal-hal privasi antar keduanya. Namun, terlampau antusias terkadang sebagian dari kita sering latah menggosip. Terpancing dari si pembawa gosip hingga akhirnya tema pembicaraan merembet menggosipkan keburukan orang lain. Kebiasaan seseorang yang 'doyan ngerumpi' ini berimbas buruk terutama pada si objek pembicaraan.
Tak ada fakta lain yang bisa menampik tentang kebenaran lisan yang mudah sekali latah. Jago jadi 'biang gosip'. Lidah yang tak bertulang nampaknya menjadi dalih kebiasaan menggosip membudaya di berbagai kalangan. Terlebih ini terjadi pada kaum wanita yang memang biasanya cenderung banyak bicara.
Gosip merujuk pada sikap seseorang yang condong mencari-cari keburukan orang lain. Menjadikan kelemahan teman sebagai bahan ejekan. Bahkan tak hanya kelemahan, kelebihan juga selalu saja dianggap negatif. Begitulah gelagat jiwa yang terlanjur tertanam menjatuhkan orang lain.
Kebiasaan menggosip berawal dengan adanya ghill pada hati. Ghill adalah rasa yang berpenyakit. Hati diliputi prasangka buruk, iri, dendam, mudah tersinggung dan sifat buruk lainnya. Jika ghill muncul pada diri, maka ghill akan membuka pintu setan untuk kita membenci orang lain secara berlebihan. Ghill akan memancing kita tidak menyukai seseorang bukan hanya soal tingkahnya tapi bahayanya kita bisa membenci keimanannya pula.
Sulit memang menghindari diri dari ghill ini. Bahkan Rasulullah pun secara terang-terangan mengungkapkan rasa sakit hatinya pada Hamsyi. Hamsyi adalah mu'allaf yang ironisnya merupakan pembunuh paman sang Rasulullah, yakni Hamzah. Menyiasati rasa sakit hati yang timbul, Rasulullah pun meminta Hamsyi untuk tidak bersitatap pada sang Rasul. Karena ketika bersitatap, maka saat itu pulalah Beliau teringat pamannya.
Bagaimana cara membebaskan diri dari ghill? Kita bisa memilih dengan membiasakan diri melingkar dengan teman berkepribadian baik. Pribadi yang enggan melebih-lebihkan keburukan orang lain. Jika sakit hati, maka sebisa mungkin segera memaafkan. Bukan karena orang lain layak dimaafkan namun karena kita berhak mendapat ketenangan hati.
Jangan sampai kita mendendam saking sakit hatinya kita pada seseorang. Dendam ibarat racun yang ditenggak diri sendiri, tetapi berharap orang lain yang terenggut nyawanya. Menginginkan orang lain yang tersiksa namun malah kita yang tersesak karena dendam yang mengusik.
Percayalah ganjaran diri atas hati yang terbebas dari ghill adalah surga. Sering-seringlah memohonkan diri pada Allah agar terhindar dari ghill. Menghilangnya ghill akan menumbuhkan rasa cinta dan saling tolong-menolong antara sesama.
