Bernas.id – Setiap orang melakukan apapun dalam hidupnya pasti memiliki tujuan. Tujuan seseorang melakukan sesuatu tergantung niat atau motivasinya. Kamu sepakat? Jawabannya boleh iya boleh tidak. Maka, niat seseorang akan berpengaruh pada action, tindakan atau langkah yang diambil si empunya niat dalam mengekseskusi tujuannya tersebut. Tentu saja langkahnya beragam tergantung niatan tadi.
Niat atau motif itu tumbuh dari hati. Hati yang sering diartikan dan disimbolkan cinta atau love seringkali dimaknai positif. Banyak orang yang mengartikan cinta sebagai kebahagiaan, kasih sayang, lemah lembut, kerinduan dan hal-hal positif lain yang disimbolkan oleh si bentuk hati ini. Padahal cinta tidak melulu hal-hal yang positif dan menyenangkan, lebih dari itu cinta sering membawa petaka. Sebut saja contohnya kasus pembunuhan pasangan suami istri atau anak membunuh orang tua atau sebaliknya. Apakah itu bentuk cinta yang seharusnya ada diantara mereka? Tentu saja bukan, tapi contoh itu bermuara karena cinta yang berasal dari hati yang rusak atau busuk.
Sesuatu juga bisa memiliki akibat hukum lain sesuai dengan isi hati atau niatnya. Pernikahan yang merupakan hal positif saja dan merupakan sunah Rosul bisa menjadi haram hukumnya tergantung niatnya. Niat atau hati juga bisa merusak amal baik. Seseorang yang melakukan kebaikan tapi dibarengi niat busuk di balik kebaikan yang ia lakukan, maka kebaikannya tak akan berbuah pahala. Bahkan niat buruk yang hanya terlintas dalam fikiran atau tersimpan dalam hati sudah merusak pahala, begitu pula sebaliknya niat baik yang terlintas dalam hati meski belum terealisasi Insya Allah sudah mendapatkan pahala kebaikan.
Begitulah niat atau hati mempengaruhi kehidupan kita, bahkan hati mencerminkan siapa diri kita sebenarnya. Hati akan membentuk sikap si empunya, baik atau buruk perilakunya tergantung hatinya. Seseorang akan bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu dan menunaikan tugasnya jika dalam dirinya terdapat niat yang baik, sebaliknya orang akan kehilangan rasa tanggungjawabnya atas tugas yang diembannya, jika niatnya kurang baik.
Maka, periharalah hati agar terjaga kesuciannya, karena hati mudah sekali terserang penyakit. Bahkan penyakit yang menyerang hati atau disebut penyakit ruhani lebih berbahaya dari penyakit yang menyerang jasad atau penyakit jasmani. Penyakit jasmani mungkin hanya akan merusak jasad atau raga, namun penyakit hati bisa membinasakan keduanya hati dan jasad, bahkan merusak seluruh amalan baikmu. Karena penyakit hati ini menimbulkan sikap sombong, iri, dengki, hasud, bahkan syirik sebagai penyakit hati paling berbahaya bahkan tidak terampuni.
Maka, seharusnya kita menjaga hati dan memperbaiki niat untuk memperbaiki kualitas hidup kita di dunia dan mendapat kemuliaan di akhirat. Nabi shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda,?Ingatlah bahwa di dalam jasad itu segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati? (HR. Bukhori no.52 dan Muslim no. 1599).
Semoga kita dapat menjaga hati dan niat kita senantiasa dalam kebaikan dan ridho Allah SWT dan selalu berserah diri padaNya karena Dialah yang kuasa membolak balikan hati manusia. Aamiin ya robbal alamiin.
