Bernas.id – Masih ingat kejadian fenomenal di tahun 1998, hampir sebagian belahan dunia mengalami krisis moneter (krismon) tidak terkecuali negara kita Indonesia. Rush besar-besaran terjadi dimana-mana sampai banyak pelaku usaha yang gulung tikar dan dunia perbankan terpuruk. Sedih, marah dan kecewa saat itu namun tidak sanggup berbuat apapun, salah satu yang menyebabkan kebangkrutan negara ini adalah masalah utang piutang negara yang tidak terkendali!
Bersyukur, negara kita tercinta masih punya orang baik dan pintar yang mau turun tangan menyelesaikan kesulitan ini. Nasib bangsa yang hampir diujung tanduk bisa diselamatkan dari kegiatan ekonomi yang dulu dianggap sebelah mata.
Apa saja kegiatan ekonomi itu, mari kita belajar memperbaiki masalah keuangan negara kita agar bisa berjalan dengan gagah di hadapan negara lain.
1. Koperasi
Kegiatan ekonomi yang berdasarkan gotong royong dan kekeluargaan mengatur simpan pinjam yang meringankan anggotanya. Anggota yang berutang diatur berdasarkan kekeluargaan karena saling tolong menolong, malah membuat negara kita terbantu salah satunya rakyat bisa mandiri secara ekonomi.
2. Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
UKM ini adalah tulang punggung perekonomian yang paling nyata saat krismon terjadi. Usaha yang produktif dirintis oleh orang perorang atau perusahaan tetapi bukan anak perusahaan atau cabang. Hal utama bisa kita ambil dari kegiatan ekonomi ini adalah minimnya utang. Contoh tukang makanan/warteg, pedagang sayur.
3. Tukang kredit
Pernah lihat orang yang menjajakan dagangannya dengan sistem cicil atau kredit, biasanya mereka berasal dari daerah Tasikmalaya. Julukan tukang kredit acap kali dianggap lelucon yang merendahkan, namun jangan salah justru merekalah yang menyelamatkan negara ini dari cara menjual barang dagangannya serta memberikan keringanan dalam pembayaran. Konsumen bisa mencicil pembayarannya misal perhari, perminggu atau bulanan sehingga konsumen tidak merasa terbebani dan pedagang bisa laku menjual barangnya.
Jika saja negara kita mau belajar dari dari pengalaman, mengapa tidak? Kita bisa menjadi negara adi daya dalam hal ekonomi tanpa hutang yang akan terasa menjerat anak cucu kita.
