JAKARTA, Bernas.id – Pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan klaster industri baja di tiga wilayah, yaitu Cilegon-Banten, Batulicin-Kalimantan Selatan, dan Morowali-Sulawesi Tengah.
Menurut Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, produksi dari kelompok manufaktur terpadu tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor serta mewujudkan negara mandiri dari impor baja.
?Melalui pendekatan klaster ini, karena sifatnya saling melengkapi, produk yang dihasilkan akan lebih berdaya saing serta memacu adanya inovasi dan peningkatan kualitas produk sesuai permintaan konsumen saat ini,? kata Menperin Airlangga Hartarto di Jakarta.
Dirinya menjelaskan, bahwa industri baja dikategorikan sebagai sektor induk karena produknya merupakan bahan baku utama yang diperlukan bagi kegiatan manufaktur di sektor industri lainnya.
?Baja dibutuhkan sebagai komponen penting dalam sektor infrastruktur secara luas. Sektor-sektor itu antara lain meliputi bangunan dan properti, jalan dan jembatan, telekomunikasi, serta ketenagalistrikan,? tuturnya.
Nantinya dengan adanya klaster itu pemerintah tengah menargetkan produksi 10 juta ton baja pada 2025 melalui pembangunan klaster industri baja di Cilegon, Banten.
?Dengan adanya klaster 10 juta ton yang nilai investasinya mencapai USD4 miliar ini, memberikan multiplier effect melalui penciptaan lapangan pekerjaan, pemenuhan bahan baku industri dalam negeri, dan memberikan manfaat terhadap perekonomian nasional khususnya Banten,? tambah Airlangga.
