Bernas.id – Memiliki anak yang penurut adalah mimpi semua orang tua. Anak yang patuh dan akan selalu bersikap manis akan semua nasihat kita. Menjadikannya anak seperti ini, perlu jalan yang berliku. Sulit tapi tak ada namanya jalan yang buntu kalau memang kita berusaha membuat jalan di sana kan?
Saat anak yang terlihat patuh lalu tiba-tiba memberontak, bahkan membentak, apa yang akan kita lakukan? Mencapnya sebagai anak durhaka? Balik membentak dan menyuruhnya diam? Atau merasa gagal mejadi seorang ibu atau ayah?
Seperti pepatah kehidupan bahwa kehidupan seperti roda. Kadang di atas kadang di bawah. Seperti itu juga kehidupan membersamai buah hati. Buah hati yang sedap dipandang, perilakunya yang membanggakan, dan semua hal yang disukai orang tua tak mungkin akan lurus seperti jalan tol. Karena memang Allah akan memberikan semua hamba-Nya ujian. Hanya bedanya ujian itu sulit atau mudah. Lalu bagaimana mengambil hikmah anak yang tadinya patuh lalu tiba-tiba memberontak?
1. Life is never flat
Ingat bahwa kehidupan akan silih berganti membuat kita belajar. Kehidupan yang datar membuat kita tak pernah berikhtiar bahkan berdoa. Memiliki buah hati yang manis pasti adalah tujuan kita mendidiknya. Namun, bukankah kodrat manusia yang akan meminta kepada-Nya di saat sulit? Dan juga kita bisa saja mengklaim bahwa sesuatu itu terbaik untuk kita. Nyatanya, sesuatu yang kita cap terbaik bukan apa yang dikehendaki-Nya.
2. Kita diciptakan dengan tujuan beribadah kepada-Nya
Dalam salah satu ayat Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribadah kepada-Nya. Pun dalam bacaan solat takbiratul ihram dijabarkan bagaimana cara beribadah kepada-Nya. Dalam solat, hidup kita bahkan mati kita semua ditujukan untuk Sang Pencipta. Maka, semua ujian yang Allah beri adalah khusus untuk hamba-Nya. Ia bisa mengambil hikmah bahwa ia diuji dengan anaknya yang tiba-tiba berontak agar beribadah lebih tekun.
3. Bahwa jika tak ada keburukan, tak ada pula kebaikan
Allah menciptakan sesuatu berpasangan. Laki-laki dan perempuan, siang dan malam, begitu pula kebaikan dan keburukan. Saat tak ada keburukan, manusia takkan mengenal indahnya kebaikan. Jika saja Allah hanya menciptakan semuanya baik, maka tak ada istimewa dari kebaikan itu. Seperti orang tua yang akan merasa bersyukur sudah diberi kebijaksanaan setelah berlarut dalam pertengkaran dengan anak. Kebaikan yang ia peroleh, ia bisa bersyukur memiliki kebijaksanaan yang timbul dari keburukan anaknya.
