Bernas.id – Ingatkah Anda bagaimana rasanya saat ingin mengajukan judul skripsi? Tentu ada rasa getar-getir karena ada sedikit rasa ketidakyakinan soal judul yang diajukan. Takut-takut jika tidak disetujui pembimbing. Perjalanan menuju sarjana juga masih belum usai. Dilanjutkan dengan sidang sebagai penentu akhir kelulusan. Sidang yang menjadi momok yang paling dikhawatirkan.
Mental untuk mempersiapkan sidang mungkin mirip dengan saat Anda mengajukan atau menerima lamaran menikah nanti. Masalahnya saat ini adalah mental siap menikah selalu terhambat pada pola pikir kita yang keliru. Mindset seperti apa yang mampu menggagalkan atau menunda kesiapan menikah?
Mindset sering sekali menjadi tonggak pembentuk kepribadian seseorang. Dengan mindset, seseorang mampu sukses ataupun sebaliknya. Mindset adalah cara seseorang berpikir sekaligus mengambil sikap saat mengalami fenomena di hadapannya. Pola pikir yang mengubah si pengecut menjadi pemberani dan si lamban menjadi cekatan. Keinginan menikah tak luput pula dari kemantapan mindset. Sayangnya, ada beberapa mindset yang salah hingga membuat seseorang ragu untuk naik ke pelaminan.
Menikah tidak mudah
Menikah itu sebenarnya mudah, lo. Asalkan terlengkapi lima rukun, maka Anda bisa menikah. Esensi menikahlah yang membuatnya menjadi tidak mudah, yakni membangun pernikahan yang berkualitas. Kualitas terbukti dari sikap yang saling mendidik. Mewujudkan keluarga yang teguh pada prinsip ke-Islam-an dan membaur mewarnai lingkungan dengan kebaikan.
Pernikahan yang diidamkan mirip postingan media sosial
Jika kita berkiblat pada memikatnya pesta pernikahan via instagram, maka sesungguhnya itu adalah kekeliruan yang menyesatkan. Atau jika kita terpana melihat kemesraan pasangan kekasih yang di-upload pada media, maka Anda juga mungkin telah tertipu. Menikah sebenarnya tak seindah itu. Ada banyak ujian yang akan menghadang. Selisih paham juga bisa saja terjadi. Namun, yang harus dipercayai adalah di balik ujian selalu ada berkah. Pernikahan akan selalu membahagiakan meski pestanya tak semeriah bintang Hollywood. Jadi, janganlah menjadikan media sosial sebagai tolok ukur pernikahan idaman.
Menginginkan menikah dengan orang yang sesuai kriteria
Tak ada larangan menentukan kriteria bagi calon pasangan. Ini adalah bukti bahwa Anda berprinsip. Mengartikan bahwa Anda tak sekedar menikah karena ingin melainkan karena Anda sedang mempertahankan prinsip. Namun Anda dan calon pasangan bukanlah makhluk sempurna. Jadi, jika prinsip Anda adalah yang terbaik, itu jelas keliru. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang wajib Anda syukuri sedangkan kekurangannya harus dimaklumi. Manusia bukanlah malaikat. Lelaki Anda nantinya bukanlah Rasulullah yang amat istimewa dan wanita Anda pun bukanlah Khadijah ra. yang anggun tanpa cela.
Nah, jika Anda baru mantap menikah dengan menunggu datangnya pangeran atau bidadari, alangkah meruginya Anda. Pangeran dan bidadari takkan pernah turun dari langit. Pangeran dan bidadari Anda dibentuk dengan usaha Anda sendiri. Tinggalkan mindset–mindset yang memperlambat pernikahan Anda. Siapkan mental secara baik bukan dengan sibuk memilah-milih calon melainkan menyingkirkan pemikiran buruk terlebih dahulu.
