Bernas.id – Indonesia mungkin sudah lama merasakan merdeka, tapi masih ada beberapa hal yang belum mencapai kemajuan yang berarti setelah kemerdekaan. Salah satunya di bidang literasi. Hal ini dapat dilihat dari kemauan minat baca masyarakat Indonesia yang tertinggal dari negara-negara lain. Kita juga dapat melihat bahwa minat baca masyarakat Indonesia yang sangat minim sekali bukan.
Baca juga: Cara Menulis Kutipan Langsung dan Kutipan Tidak Langsung Lengkap
Bung Hatta pernah melontarkan ungkapan dari penggambaran sosoknya seperti ini, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca buku itu sangat penting karena membaca merupakan alat pembebasan belenggu kebodohan. Dengan membaca kita tahu seluk beluk kehidupan. Nah, bagaimana keadaan masyarakat kita tentang kepedulian literasi? Rendahnya minat masyarakat terhadap dunia literasi mendorong sekelompok komunitas pejuang literasi mendirikan wadah yang bergerak memajukan literasi di Indonesia. komunitas ini telah dikenal banyak orang seperti komunitas Melodius aksara, Sakatara KMC, dan komunitas Menyalakan Literasi.
Melodius aksara mempunyai anggota 130 orang, dan telah mengadakan event menulis sebanyak 6 kali. Dari event yang diikuti akan terpilih juara 1, 2, 3 dan beberapa kontributor terpilih. Melodius aksara juga memberikan sertifikat kepada para juara dan kontributornya. Sedangkan puisi-puisi yang di saring akan dibukukan menjadi sebuah antologi puisi. Saat ini, melodius aksara sedang berusaha mengepakkan sayapnya untuk memajukan dunia literasi di Indonesia.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
Hal yang sama dilakukan oleh komunitas Sakatara KMC. Komunitas ini beranggotakan 145 orang. Komunitas ini sangat produktif dalam mencetak generasi-generasi unggul. Serangkaian kegiatan yang dilakukan sangatlah produktif seperti kolaborasi puisi, serba-serbi puisi, tantangan setelah materi ataupun curhat tentang kepenulisan.
Ada juga komunitas Menyalakan literasi yang sudah beranggotakan 252 orang. Komunitas ini juga telah mencetak benih-benih unggul. Selain materi yang diberikan berkualitas dengan menghadirkan pemateri yang selalu berkompeten di bidang kepenulisan. Komunitas ini juga selalu mengedepankan kekeluargaan, saling membantu dan saling menghargai. Serangkaian kegiatan juga telah diprogramkan secara rutin dalam komunitas ini, seperti bedah buku kepenulisan, sharing kepenulisan dan juga sesi tanya jawab.
Nah, itulah sekelumit komunitas sastra yang telah memperjuangkan literasi di Indonesia ya. Semoga literasi Indonesia semakin maju, dengan semakin banyaknya wadah dan orang-orang yang selalu berinovasi memajukan aksara.
Salam aksara maya. Kita cinta Indonesia.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
