Bernas.id – Jujur pada diri Anda, ada berapa macam dialog yang biasa Anda gunakan kepada anak Anda?
?Ayo bangun tidur, lekas sarapan, cepet nanti terlambat!?
?Aduh, itu baju apa lap pel sih, kebiasaan jelek, kasih kerjaan orang tua aja!?
?Udah kerjain PR belom, jangan bikin malu orang tua!?
Dan sebagainya, yang lebih banyak menggunakan tanda seru. Bila tidak dengan kalimat singkat seperti di atas, kalimat panjangnya adalah ceramah dari A sampai Z yang membuat anak hanya pasang ekspresi menyimak, namun pikiran dan hati sudah berpetualang entah ke mana.
Berdialog dengan anak menurut Dr. M Muhammad Badri seharusnya melalui 5 jalur yang tidak boleh dicampur antara jalur satu dengan yang lainnya, dan jalur-jalur tersebut antara lain:
1. Jalur Pengajaran
Jalur ini adalah berupa pengalaman yang hangat dan aktual; memperkuat hubungan antara orang tua dan anak, tentang bagaimana seorang ibu mengajarkan pelajaran memasak, seorang ayah yang mengajarkan bagaimana memasangkan umpan pada kail, pengajaran tentang kehidupan atau pertanyaan lain yang terlontar pada mulut mungil anak Anda.
?Tidak apa-apa kali ini mendapat nilai 50, kita lihat bagian mana yang salah, lalu kita perbaiki kesalahan bersama.?
?Yuk kita lihat, bagaimana hasil masakan bersama kita.?
Dan sebagainya, libatkan mereka dan hati Anda untuk membantu mereka dalam proses pengajaran.
2. Jalur Keterlibatan Emosional
Ungkapkan bahwa Anda memiliki keterlibatan emosi dengan mereka, masuk kedalam jalur ini sangat penting untuk daijalani untuk Anda. Saat anak dalam keadaan yang bersalah, memahami kondisi mereka lalu memberikan solusi adalah yang terbaik dibandingkan dengan kritisi kesalahan mereka yang akan memperdalam luka yang terlanjur menganga.
Contohnya, saat anak mendapat nilai buruk dikelas, banyak sekali orang tua yang langsung mengkritisi nilai buruk mereka dengan cercaan. Harusnya orang tua masuk ke dalam perasaanya yang luka karena nilai buruk yang didapatkannya.
?Ibu paham kamu pasti merasa sedih, ayo kita hadapi nilai yang membuatmu sedih ini bersama. Ibu akan membantumu belajar mulai saat ini.?
3. Jalur negosiasi
Sewaktu Anda mendengarkan anak Anda dengan seksama dan berusaha memahami faktor-faktor yang menyebabkan mereka meminta sesuatu, atau ketika Anda bernegosiasi dengan mereka untuk mencapai suatu kesepakan, hal itu akan bermanfaat bagi mereka.
Namun, orang tua perlu menghindari jalur negosiasi dengan ?sogokan?. Contoh, ?Tidak perlu rewel dan menjerit, Ibu akan memberikan HP untukmu bermain, asal kamu berhenti menangis.?
Tapi coba seperti ini:
?Ibu tahu engkau ingin ke rumah temanmu hari ini, tetapi udara di luar sedang dingin, dan tidak ada yang bisa mengantarmu ke sana. Dan ini pertama kalinya kamu pergi dari rumah mengendarai kendaraan umum, maka ibu terlalu khawatir. Jadi bisakah kamu hanya bicara dengannya lewat telepon??
4. Jalur perintah atau larangan
Larangan adalah pembatas tindakan anak yang terlalu berlebihan atau tidak sesuai menurut pandangan orang tua. Saat memberi batasan, hindari kalimat yang membuka negosiasi. Seperti:
?Matikan Laptopmu, ini waktunya makan malam!? atau
?Ayah paham pasti kamu memukul Adik karena suatu alasan, namun memukulnya adalah salah, sekarang minta maaf pada Adikmu!?
5. Jalur Motivasi
Kebanyakan orang tua melakukan kesalahan dengan terburu-buru memberi kritik perilaku buruk anak tanpa memberi motivasi padanya. Contoh kritikan, berikut:
?Kamu selalu saja membuat marah Ayah, kenapa selalu bertindak kasar pada Adikmu!? Teriakan dan kata selalu akan menjadikan anak memahami bahwa ia adalah anak yang selalu bertindak kasar, seharusya:
?Kamu marah terhadap Adikmu, maka kamu marah, apabila marahmu tidak dengan memukulnya, maka kamu luar biasa, anak yang baik dan berhati lapang. Ayah akan sangat bangga padamu!?
Orang tua perlu berlatih terus menerus untuk menghilangkan jalur komunikasi yang salah. Setelah berhasil dengan kelima jalur di atas, maka lihatlah kemajuan hubungan Anda dengan anak. Mereka akan menjadi anak baik sesuai yang kita harapkan.
