Bernas.id – Media sosial menimbulkan efek candu yang lebih besar pada remaja dibandingkan dengan alkohol maupun rokok. The Royal Society for Public Health pada awal tahun 2017 melakukan survei terhadap 1.479 anak berusia 14-24 tahun dengan meminta responden untuk memberikan peringkat seberapa berpengaruhnya lima platform media sosial (Facebook, Instagram, Snapchat, Twitter, Youtube) terhadap 14 pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan baik pengaruh secara positif maupun negatif.
Berdasarkan survei tersebut, instagram ditetapkan sebagai media sosial yang paling banyak memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan. Pengaruh terburuk yang diberikan instagram meliputi gangguan tidur, persepsi tubuh (bagaimana seseorang memandang bentuk tubuh yang mereka miliki), sindrom FoMO (Fear of Missing Out) atau gejala yang mengharuskan seseorang untuk terus update karena tidak ingin ada sesuatu yang dilewatkan, bullying, rasa cemas, depresi dan yang terakhir adalah kesepian.
Tidak hanya instagram, snapchat menjadi media sosial terburuk kedua bagi kesehatan. Baik snapchat maupun instagram, kedua media sosial tersebut memungkinkan para penggunanya untuk saling berbagi gambar. Hal ini dapat menimbulkan perasaan cemas, galau serta menciptakan kecemburuan sosial pada pengguna yang akan merasa bahwa dirinya tertinggal dibandingkan teman-temannya di media sosial. Rasa cemas dan khawatir merupakan faktor pendorong utama yang menyebabkan seseorang depresi.
Studi terbaru mengungkapkan bahwa instagram tidak hanya menyebabkan seseorang depresi, melainkan juga bisa menjadi alat yang akurat dalam mendeteksi status depresi pada penggunanya. Seseorang yang depresi akan memilih warna yang gelap dibandingkan dengan warna-warna yang cerah dan terang, konsep inilah yang kemudian menarik perhatian dua peneliti dari universitas Vermont dan Harvard. Kedua peneliti tersebut mengembangkan algoritma komputer yang akan mengidentifikasi tanda-tanda depresi berdasarkan gambar yang dibagi di media sosial. Akurasi yang dicapai alogoritma tersebut diklaim mencapai 70% atau sebanyak dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat akurasi yang dilakukan dokter pada orang yang depresi.
Pengguna instagram dihadapkan pemilihan pada filter yang akan mengubah warna gambar sebelum mereka membagikannya. Alogoritma mendeteksi bahwa 70% orang yang depresi akan mengubah gambar dengan warna yang dominan muram atau biru, seperti pada filter Inkwell. Sebanyak 44 ribu foto yang berasal dari 166 partisipan dilibatkan dalam studi ini, 71 orang di antaranya masuk dalam diagnosa depresi. Selain itu, postingan yang menampilkan sedikit wajah juga dianggap depresi karena cenderung menarik diri dari kelompok sosial.
