Bernas.id – Usia satu orang dengan orang yang lain bisa saja sama. Tidak menutup kemungkinan tingkat pendidikan juga bisa sama. Namun, bagaimana dengan cara menyelesaikan masalah? Hanya ada dua pilihan. Anda terjatuh karena masalah atau masalah terlindas karena Anda. Masalah timbul karena berbagai sebab yang awalnya sebenarnya sederhana. Rumitnya masalah tergantung cara kita mentelaahnya. Masalah bisa cepat selesai dengan mengaku salah meski kita tidak bersalah. Benarkah?
Ada banyak kasus yang diawali dengan masalah sepele. Contohnya saja kejadian pelajar SMU daerah Pekanbaru pada Jumat lalu yang menganiaya temannya sendiri hingga tewas. Latar belakangnya sebatas pesanan bedak korban yang belum diserahkan oleh pelaku. Hal mengenaskan semacam ini tentu bisa dicegah jika satu sama lain mengalah. Pelaku mengakui kesalahan lantas sabar melayani pembeli dan korban pun juga tak perlu sering menegang urat.
Sifat yang mau mengalah itu baik. Tak berarti karena kita di posisi salah, maka kita meminta maaf atau mengalah. Jiwa kita berhak menerima ketenangan hati. Jika hanya sibuk mencari-cari akar masalah namun berujung pertengkaran, maka semua itu menjadi sia-sia.
Rasulullah pernah bersabda, ?Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia benar, akan dibangunkan rumah untuknya di tengah surga.? (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik)
Dalam percintaan suami istri sifat yang mau mengalah justru sangat membantu kekokohan rumah tangga. Wajar dua insan dipersatukan akan terjadi banyak perbedaan dan berselisih paham. Namun, dengan memilih merendah mengalah pada pasangan, semua masalah cepat tertuntaskan.
Pada hubungan dengan orang lain pun penting. Tujuannya agar tidak terjadi cekcok yang tidak diinginkan. Mengalah untuk menang. Makna ini merujuk pada cara kita menyentuh hati orang lain dengan mengalah. Kita tidak salah, tapi yakinlah suatu saat nanti Allah sendiri yang akan membela kita.
Cukuplah masalah sebagai ajang pematangan diri, menyempurnakan penyelesaian masalah dan cara melapangkan hati.
