Bernas.id ? Tunisia tengah bergejolak. Sejak hari Senin (8/1/2018), kota-kota besar di negara tersebut diguncang oleh aksi protes. Aksi tersebut muncul sebagai bentuk penolakan atas kebijakan pemerintah dalam menaikkan pajak dan harga barang-barang untuk memangkas defisit anggaran.
Reuters mengabarkan kalau hingga hari Kamis (10/1/2018), sebanyak 600 orang demonstran sudah ditangkap oleh pihak keamanan. Sebanyak lebih dari 300 di antaranya ditangkap pada hari Rabu malam menyusul terjadinya kerusuhan di hari tersebut. Kian buruknya situasi domestik di Tunisia lantas memaksa pemerintah untuk menerjunkan tentara ke jalan-jalan.
Kota Thala yang terletak di dekat perbatasan Aljazair adalah salah satu kota dengan tingkat kerusuhan terparah. Massa di kota tersebut membakar gedung badan keamanan setempat. Akibatnya, polisi terpaksa mundur dari kota tersebut dan memasrahkan urusan keamanan ke tangan militer.
?Apa yang sedang terjadi di sini adalah kejahatan, bukan aksi protes. Mereka mencuri, menakut-nakuti khalayak, dan mengancam properti pribadi serta publik,? kata Khelifa Chibani selaku juru bicara Kementerian Dalam Negeri.
?Memang benar ada demonstran yang membakar dan mencuri saat aksi protes kemarin malam. Namun pihak penguasa sendiri mencuri dan menghancurkan Tunisia di pagi dan malam hari dengan kebijakan frutsrasi mereka,? kritik seorang warga lokal di kota Tunis yang bernama Mohamed saat mengomentari aksi protes ini.
?Kami berharap adanya perbaikan situasi setelah Ben Ali digulingkan. Namun nampaknya tujuh tahun sesudah terjadinya revolusi, kami malah harus menyerahkan gaji kami setiap bulannya kepada Perdana Menteri Chahed untuk dia habiskan,? tambahnya.
Tunisia pada tahun 2011 lalu menjadi negara Arab pertama yang dilanda aksi protes menutut mundurnya Presiden Zine El-Abidine Ben Ali. Aksi tersebut kemudian menjalar ke negara-negara Arab lainnya menjadi apa yang dikenal sebagai Musim Semi Arab.
Namun pasca lengsernya Ben Ali, sektor politik Tunisia justri dilanda ketidakstabilan. Negara tetangga Libya tersebut sempat berganti pemerintahan hingga sembilan kali. Tidak stabilnya sektor politik Tunisia lantas turut berdampak pada lambatnya pemulihan ekonomi dan tingginya angka pengangguran.
