Bernas.id – Tahun baru menjadi salah satu momen yang paling banyak dirayakan di seluruh dunia. Lampu-lampu bersinar, aneka musik di putar untuk mengiringi suasana pergantian tahun. Juga yang tak kalah seru adalah atraksi kembang api yang membuat para pemburu tahun baru berdecak kagum akan keindahan percikan bunga api dengan kombinasi warna-warni yang menawan hati. Atraksi kembang api menjadi momen yang paling dinanti di setiap penjuru negeri, tak terkecuali di negeri Ibu Pertiwi.
Keindahannya membius semua mata yang melihatnya, terpesona seakan tidak menyadari bahwa atraksi semata-mata dilakukan sebagai bentuk pengalihan isu yang semakin tenggelam dan bukan tidak mustahil jika masyarakat kita semakin menjadi ?tuan? yang manja di negerinya sendiri. Lihat saja berapa banyak rupiah yang dibakar untuk pesta hura-hura, nilainya mencapai ratusan juta. Masyarakat menjadi manja karena dibiasakan berpesta, bukan berdoa apalagi berusaha. Padahal prestasi keterpurukan Idonesia jelas dan sangat nyata. Mungkin kita lupa dengan hal-hal ini, catatan utama keburukan yang perlu diperbaiki, apa saja itu, mari kita lihat bersama
1. Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur rata-rata pencapaian suatu negara dalam hal kesehatan, pengetahuan dan standar hidup. Badan Program Pembangunan di bawah PBB melaporkan dalam Human Development Report 2016, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2015 berada di peringkat 113 dari 188 negara di dunia, dengan skor 0,689. Posisi ini turun tujuh peringkat dibanding tahun 2014 yang berada pada posisi 110. Posisi ini sangat jauh dari negara tetangga, Malaysia yang berada pada peringkat 59 dengan skor 0,789. Tentunya hal ini harus segera diperbaiki bersama, bukan hanya pemerintah namun juga seluruh komponen masyarakat.
2. Minat Baca
Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, tingkat literasi masyarakat Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara berdasarakan penilaian yang dilaksanakan di Central Connecticur State University. Tingkat buta aksara Indonesia juga sudah menurun, tersisa 20,7 persen atau sekitar 3,4 juta jiwa. Turunnya angka buta aksara merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk lebih memasyarakatkan kegiatan literasi sehingga tidak tertinggal dengan negara lainnya. Jika tidak dibiasakan membaca, Indonesia akan lebih jauh tertinggal dalam berbagai macam bidang.
3. Gizi buruk
Laporan dari Global Nutition Tahun 2016 menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 108 di dunia dengan kasus gizi buruk terbanyak. Kondisi 17,8 persen anak balita berada di bawah standar WHO. Indonesia kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang prevalensi kasus wasting hanya sebesar 7 persen sedangkan Indonesia mencapai 14 persen. Sementara itu prevalensi stunting (cebol) di Indonesia mencapai 36 persen sementara di Thailand hanya sebesar 16,3 persen.
4. Angka kemiskinan
Pada Bulan Maret 2017 angka kemiskinan di Indonesia tercatat sebesar 27,77 juta atau sekitar 10,70 %, presentase ini turun jika dibandingkan pada Bulan September tahun 2016, akan tetapi secara jumlah penduduk jumlah ini justru meningkat. Sementara itu, pada Februari 2017 Global Finance Magazine menerbitkan analis daftar negara termisikin di dunia dengan menggunakan data dari International Monetary Fund. Peringkat dibuat berdasarkan produk domestik bruto per kapita yang dinyatakan dalam satuan dollar Amerika. Indonesia menempati negara dengan tingkat 100 dari 189 daftar terkaya di dunia, dengan nilai produk domestik bruto sebesar 11, 699 $. Posisi ini sangat jauh tertinggal dengan Singapura yang menempati peringkat ke 4 dan Malaysia yang beradapada urutan ke 49 serta Thailand yang berada pada posisi 77. Meskipun posisi Indonesia jauh dari Filipina, Vietnam dan Myanmar yang masing-masing berada pada urutan ke 121, 128 dan 129, bukan berarti kita patut berbangga diri karena ini hanyalah hasil analisa sementara, apalagi jika kita dibiasakan berpesta pora sehingga lupa bahwa siapa yang tak bertindak ia akan tergilas lawannya.
