Bernas.id – Pernah dengar kata “latah”? tentunya sering bukan? ya, latah adalah istilah yang dimaknai secara negatif dari meniru, mencontoh hingga sering disematkan pada kondisi seseorang yang sering merespon sesuatu dengan kaget berlebihan hingga mengeluarkan kata atau kalimat-kalimat tertentu dalam lisannya yang menunjukkan rasa terkejut tersebut.
Jika dalam pandangan psikologi komunikasi, latah menjadi satu kondisi personal yang semestinya bisa diatasi dengan beberapa treatment psikologis karena latah dianggap satu keadaan yang terus berulang, sulit dikontrol, dan keadaan ini akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang dengan orang lain. Maka dalam pandangan sosiologi istilah latah pun dipandang sebagai suatu kasus sosial yang jauh lebih kompleks perwujudannya di masyarakat yang harus diatasi bersama.
Berikut ini sejumlah wujud latah yang merugikan:
1. Latah dengan teriak sambil memaki
Wow, latah seperti ini tentunya dipengaruhi oleh kebiasaan bertutur seseorang. Bisa dibayangkan ketika seseorang terkejut dalam kondisi kapan dan dimana pun bisa melontarkan kata atau kalimat memaki. Tentunya hal ini bisa menjadi pemicu rusaknya hubungan relasi, menyebabkan ketersinggungan dan kebencian orang lain yang ada di sekitarnya, di samping itu latah seperti ini menggambarkan kualitas akhlak seseorang.
2. Latah dan bereaksi fisik
Ada juga lho orang yang terkejut dan meresponnya dengan melempari, memukul hingga menendang anggota tubuh orang terdekat. Tentunya hal ini membuat malu sendiri. Syukur- syukur jika aksi fisiknya tidak direspon emosi oleh orang lain yang bisa membuat semakin keruah situasi saat itu.
3. Latah dengan membebek
Nah, yang terakhir ini adalah latah yang lebih pada kebiasaan mengikuti perilaku orang lain tanpa bisa dipertanggungjawabkan. Ini bukan sindrom namun lebih mendekati nilai budaya. Latah jenis ketiga inilah yang menjadi pemandangan abad now, dimana para generasi muda banyak dipengaruhi oleh cara pandang bangsa lain, menjadi generasi konsumtif. Kaum muda tanpa sadar didesain oleh pihak tertentu yang hendak mencari kemanfaatan.
Contoh saja budaya valentine day, ini adalah satu bentuk latah generasi muda di negeri kita. Dalam Islam telah jelas penegasan Al Qur'an yakni larangan mengikuti kebiasaan orang-orang terdahulu yang hanya menjerumuskan. Bahkan Hadist Nabi yang menyebut sesorang yang mengikuti kebiasaan suatu kaum akan dipandang sebagai bagian dari golongan tersebut.
Valentine Day kenyataannya sebagai budaya orang barat yang dipengaruhi oleh aqidah mereka karena berawal dari kepercayaan tertentu dalam ritual tahunan. Sejumlah anak muda di negeri ini terbiasa mengonsumsi produk impor yang tidak sebatas benda melainkan juga budaya. Sayangnya, budaya tersebut kenyataannya tidak mencerminkan prinsip diri dan pedoman hidupnya yaitu agama yang dianut. Akibatnya tanpa sadar negeri kita menjadi pasar produk-produk impor. Tidak berhenti di situ, berawal dari latah dan membebek inilah yang membuat kita selau didominasi pihak asing di negeri sendiri.
Lalu, bagaimana menurutmu? Perlukah tiga jenis latah di atas dipelihara? atau semestinya kita hindari? Prinsip hidup yang akan menentukannya.
