Bernas.id – Istilah galau kini menjadi sangat populer di dunia remaja yang konon dikatakan sebagai ?yang gaul?. Selain itu, istilah galau juga mengalami perubahan dalam konteksnya secara tajam. Kata galau digunakan untuk menyebut suatu keadaan pikiran yang kacau atau suasana terpuruk.
Bukan Manusia jika Tidak Galau
Allah SWT berfirman dalam (Q.S al-Ma?arij [70]19-21) yang artinya: ?Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia kikir.?
Ayat di atas menyatakan dua di antara karakter manusia: suka berkeluh kesah dan kikir. Hal itu mengindikasikan bahwa manusia pada dasarnya memiliki sikap lemah sehingga menjadi makhluk yang berkeluh kesah. Manusia juga pada dasarnya memiliki sikap buruk berupa kikir, sehingga jika ia mendapatkan kebaikan, ia tidak mau berbagi kebaikan itu.
Meski demikian, tentu ayat itu berlanjut bahwa ada pengecualian dalam diri manusia selain dua karakter tersebut. Dalam pembahasan kali ini, kita akan memperbincangkan satu dari karakter manusia, yaitu suka berkeluh kesah. Adapun penyebab keluh kesah itu adalah galau. Nah, lagi-lagi galau disangkutpautkan. Ya, memang benar, setiap manusia suka berkeluh kesah karena galau. Artinya, galau itu memang menjadi ?fitrah? dan ?kodrat? manusia. Hanya saja, tergantung manusia itu sendiri dalam menyikapi karakter dasar yang melekat tersebut.
Mengapa kita galau?
Dari uraian di atas sudah jelas jawabannya bahwa galau itu terjadi karena karakter dasar manusia jika tertimpa kesusahan. Namun, kita bisa menepisnya jauh-jauh dan menghindarkan diri dari kegalauan yang mengancam. Caranya adalah kita menghibur diri dengan sikap sabar dan syukur kemudian ditambah lagi dengan doa dan usaha. Dengan izin Allah, galau akan menjauh meskipun suatu ketika bisa datang lagi.
Sementara itu, jawaban lain dari mengapa kita galau adalah bahwa kita tidak pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Lebih dari itu, kita tidak bersabar ketika kesusahan menimpa. Itulah kita menjadi galau.
Move on? Apa itu move on?
Istilah tersebut kini juga marak diucapkan oleh banyak orang sama halnya dengan galau. Kata ini digunakan untuk memotivasi diri sendiri ataupun orang lain. Secara bahasa, move on itu diambil dari kata dalam bahasa Inggris yang berarti bergerak atau berpindah. Adapun secara istilah yang digunakan oleh remaja yang konon disebut gaul, move on adalah sebuah istilah untuk menyebutkan suatu perpindahan dari kegalauan hingga meninggalkannya atau diartikan sebagai aksi dalam melupakan masalah dan menatap masa depan baru.
Apapun yang kita hadapi di dalam kehidupan ini, tentunya kita akan menemui suatu masalah. Yakin saja bahwa masalah yang menimpa kita ada hikmahnya. Jika kita galau, galaulah secukupnya. Galau itu boleh asalkan ada saatnya untuk move on.
Sesungguhnya, kita bisa melewati masalah yang bikin kita galau, sebagaimana telah dijanjikan Allah bahwa segala masalah yang menimpa itu telah disesuaikan dengan kadar kemampuan kita. Hal ini termaktub dalam Alquran Surah Al-Baqarah ((2):286) yang artinya: ?Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan..?
Kita tidak boleh takut kepada galau! Sebagai manusia, kita pasti merasa galau. Lagi pula, bukan manusia jika tidak pernah merasa galau. Hadapilah galau dan menangkanlah diri sendiri atas galau yang melanda!
Galau itu memang sebuah kewajaran bagi manusia. Namun, galau terlalu berlebihan seolah mendustakan nikmat Alah yang diberikan kepada kita dalam porsi yang sangat besar. Nah, dengan demikian, pantaskah kita galau secara berlebihan jika nikmat Alah lebih banyak dan lebih luas daripada sekadar masalah yang melilit kita? Maka nikmat Allah manakah yang kau galaukan?
