Bernas.id – Dunia hanyalah suatu fase, suatu tempat untuk transit ke kehidupan selanjutnya. Dunia hanyalah kenikmatan yang fana, hanya sementara. Kita tak selamanya hidup di dunia, kelak kita akan merasakan mati sebagai syarat untuk menuju fase selanjutnya.
Usia manusia tidaklah panjang, hanya satu abad?itu saja sudah langka sekali orang yang bisa mencapainya. Sedangkan usia dunia terus bertambah, umur manusia makin berkurang satu hari setiap harinya. Kekekalan bukanlah milik manusia. Kelak mereka semua akan mati.
“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” (Q.S. Al-Ankabut: 57)
Mengingat betapa sedikitnya waktu manusia di dunia, seharusnya manusia menanam kebaikan di ladangnya masing-masing supaya kelak di akhirat bisa memanen hasil terbaik. Usia manusia memang hanya sebentar, namun manusia bisa hidup selamanya.
Bagaimana caranya?
Menulislah. Teruslah menulis, maka kita akan hidup selamanya. Melalui buah pikiran kita, menghasilkan sebuah karya, sebuah tulisan yang menginspirasi banyak orang, maka kita akan tetap hidup meskipun sudah mati. Dengan terus menulis maka nama kita akan dikenang, hidup di hati para pembacanya. Menulislah hal yang positif dan bermanfaat bagi orang lain sehingga bisa bernilai ibadah. Ketika kita membagikan ilmu yang bermanfaat melalui tulisan, maka itu sama saja dengan amal jariyah untuk kita. Mengalir terus meskipun kita sudah mati.
Kekayaan melimpah, harta, dan tahta mungkin bisa membawa kita pada kepopuleran, namun belum tentu bisa menghidupkan kita selamanya. Menulis adalah salah satu cara untuk tetap abadi, tetap dikenang, tetap bersinar. Maka, mari kita mulai sekarang juga.
Menulislah, sebarkan ilmu, dan dunia akan mengenangmu selamanya.
