Bernas.id – Haji adalah rukun islam kelima. Ibadah yang membutuhkan segala sumber daya. Baik harta dan jiwa. Biaya yang tidak sedikit harus dikeluarkan. Kesehatan fisik juga harus prima. Daftar tunggu semakin jauh, karena ada pembatasan kuota tiap negara.
Panggilan ke tanah suci adalah panggilan sejati. Tidak semua orang akan diundang Allah untuk menjadi tamu-Nya. Kadang sudah siap secara harta tapi belum juga berangkat. Ibarat ibadah ini penuh misteri.
Niat berhaji harus selalu dipupuk. Kemampuan dan kemauan harus seimbang. Berhaji cukup sekali. Harta dan jiwa adalah modal untuk berangkat ke tanah suci. Setiap niat akan mendapat apa yang diniatkan.
Setiap hari ada saja orang yang mendaftar untuk berangkat haji. Agen dan lembaga yang menyediakan jasa selalu ramai. Padahal daftar tunggu semakin panjang. Kesabaran dan keteguhan menunggu inilah ujian pertama bagi orang yang ingin berangkat haji.
Ada kisah menarik, dari seorang lelaki di Yogyakarta yang enggan disebutkan nama aslinya. Kisah yang terjadi pada tahun 2016 ini, bisa kita jadikan inspirasi dan mengambil hikmahnya. Sebut saja lelaki tersebut adalah Ardi. Mungkin tak takpikir oleh Ardi bahwa dia bisa berangkat haji secara gratis. Niat pun mungkin belum ada, karena dia tahu kondisi ekonomi keluarga.
Ardi seorang guru Al-Qur?an di sebuah sekolah. Dia tinggal bersama keluarga kecilnya di asrama yang disediakan sekolah. Setiap hari mengajar dan membimbing muridnya untuk bisa membaca dan menghafal Al-Qur?an. Prinsip guru Al-Qur?an adalah siapa yang belajar Al-Qur?an maka harus diajarkan agar bermanfaat.
Amalan yang dilakukan Ardi mungkin biasa saja. Tetapi dia punya dua andalan amalan utama, yang secara istikamah dia lakukan tanpa henti. Dia hanya mengharap ridha Illahi. Tanpa banyak berpikir apalagi menunda amal itu. Apa saja amalan utama Ardi?
1. Selalu taat kepada kedua orang tua (birullwalidain)
Ridha Allah selalu beriringan dengan ridha orang tua. Ardi berusaha membantu orang tua walau dia sudah berkeluarga. Sebagai anak lelaki dia memberi semua bantuan kepada saudara perempuannya. Kadang ilmu, kadang juga harta. Dia bantu adiknya agar lulus kuliah S1. Mengarahkan adik perempuannya menjadi wanita salihah. Sampai adiknya menikah pun, Ardi membantu adik perempuan sampai tuntas.
Semua yang Ardi lakukan adalah bagian dia berbuat baik kepada kedua orang tua. Ia senantiasa mendoakan ayah dan ibunya agar selalu di jalan kebaikan. Ini bekal utama Ardi menuju panggilan Allah ke tanah suci.
2. Menjadi penjaga atau penghafal Al-Qur?an
Penjaga Al-Qur?an adalah orang-orang yang spesial. Tidak mudah untuk menjadi penjaga Al-Qur?an, selain menghafal mereka juga harus menjaga akhlak agar sesuai ketentuan Allah. Ardi mempunyai keinginan, bahwa dalam hidupnya ia menjadi penjaga Al-Qur?an.
Sebagai guru Al-Qur?an dia harus bisa menjadi pengajar dan juga menjaga Al-Qur?an. Komitmen menjadi penjaga Al-Qur?an dia buktikan dengan selalu setor tambahan hafalan setiap harinya. Selalu ada tambahan yang akhirnya bisa menuntaskan semua hafalannya.
Setelah dua amalan itu Ardi lakukan. Allah memberi kejutan kepada Ardi. Dari yayasan tempatnya bekerja, Ardi diminta untuk berlatih menjadi peserta haji ke tanah suci. Selain berhaji, punya tugas untuk melayani catering jamaah haji. Dia membantu di bagian dapur. Semua biaya ditanggung alias gratis. Maha besar Allah dengan semua karunia-Nya.
Itulah amalan sederhana yang mengantarkan Ardi bisa berhaji. Semoga kita segera menjadi tamu Allah seperti Ardi. Aamiin.
