Bernas.id – Setiap Manusia mengingkan kebahagiaan, baik kebahagiaan lahir maupun batin, dan itu telah fitrah. Kebahagiaan merupakan tujuan penciptaan manusia dan alam semesta. Ketika manusia mampu menebarkan kebahagiaan kepada seluruh makhluk-Nya, maka sesungguhnya ia tak pernah kehilangan 1% pun kebahagiaan yang ada di dalam dirinya. Malahan ia mendapatkan kebahagiaan yang lebih dengan bentuknya yang beragam.
Kebahagiaan dan cinta adalah satu ikatan yang saling menguatkan satu sama lain. Ketika kita memberi kebahagiaan maka hal itu merupakan hakikat dari cinta itu sendiri. Cinta merupakan sumber dimana kita memberikan kebaikan kepada orang yang dicintai yang akan mendatangkan kebahagiaan kepada orang tersebut. Sebagian ulama pun menggambarkan bahwa cinta merupakan dorongan untuk selalu memberi. menempatkan kebutuhan kita berada di tempat paling rendah demi memenuhi kebutuhan orang lain.
Dengan cinta, orang bisa berbuat apa saja, baik yang memberikan dampak positif maupun dampak negatif. kita rela melakukan apapun, mengorbankan tenaga, pikiran dan lain sebagainya hanya untuk memberikan orang yang dicintai sebuah kebahagiaan. Hal tersebut juga merupakan dasar filosofinya cinta dan kasih sayang. Perlakuan tersebut bukan hanya berlaku kepada makhluk-Nya yang bernama manusia, namun seluruh makhluk-Nya yang ada di alam semesta.
Ketika kita mendapatkan kebahagiaan, kita merasakan bahwa ini adalah kehidupan yang baik. Sebagaimana Ibnu Abbas menuturkan dalam memaknai “Kehidupan yang baik (hayah thayyibah) sebagai kebahagiaan di dunia ini. Dan memang manusia diciptakan untuk sebuah kebahagiaan. seperti dalam QS al-Syams: 7-10.
“Demi Jiwa dan penyempurnaannya. Maka setelah itu, Dia ilhamkan jalan keburukan (akhlak) dan ketakwaannya. Pasti bahagia siapa yang memelihara kesuciannya dan pasti sengsara siapa yang mengotorinnya.”
Puncak kebahagiaan dan kesengsaraan sesungguhnya produk presepsi. Dimana yang menjadikan sesuatu terlihat indah dan tidaknya, terdapat di dalam cara pandang. Setiap orang mempunyai cara pandang tersendiri yang membuat dirinya berada dalam kebahagiaan. Tidak semuanya dapat disamakan, setiap orang punya posisinya masing-masing dalam bahagia.
