Bernas.id – Guru Budi kini terbaring abadi di pusaranya. Tak mampu lagi untuk melahirkan generasi penerus bangsa melek seni yang mampu menciptakan karya indah. Kini hanya rasa ikhlas dan doa yang bisa diberikan untuk mengantarnya ke hadirat Tuhan.
Kejadian tragis guru dianiaya murid hingga meninggal dunia di Sampang Madura beberapa waktu lalu, tak ayal mencoreng muka dunia pendidikan Indonesia. Banyak komentar pesimis mulai bermunculan dengan sistem pendidikan bangsa ini. Latar belakang apa yang sesungguhnya menjadi pemicu maraknya kekerasan di sekolah, khususnya generasi muda zaman now ini? Apa yang masih perlu dibangun dan ditambahkan ke sistem pendidikan kita?
Kepada Bernas.id, Senin (12/2), Johanes Eka Priyatma, PhD, Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) membeberkan bahwa anak-anak zaman sekarang memang tumbuh dan berkembang dalam dinding 10 sampai dengan 20 tahun yang lalu. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah tersedianya gadget cerdas yang selain menghibur juga menyita waktu dan perhatian anak untuk terus memakainya tanpa kendali.
Hal tersebut, lanjut Eka, mengakibatkan kurangnya waktu anak membangun relasi ontentik baik dengan teman sebaya ataupun dengan generasi yang lebih maupun lebih muda. Perjumpaan face-to-face yang kaya konteks dan otentik semakin jarang dialami anak-anak. Hal ini membawa konsekuensi besar terhadap pemahaman dan pengalaman konkrit tentang bagaimana berelasi dengan baik sesuai dengan norma dan budaya sekitarnya.
Kepala sekolah SMA Negeri 1 Yogyakarta, Rudy Prakanto kepada Bernas.id, Senin (12/2), menjelaskan bahwa generasi sekarang ini yang dikenal dengan generasi Z memiliki daya pikir yang kritis dan cenderung memiliki sifat individualis yang tinggi. Hal ini dipicu oleh kondisi kekinian terkait dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, banyaknya media sosial yang tidak kalah pentingnya adalah semakin seringnya siswa asik dengan dirinya dan berkomunikasi dengan gadget atau hp yang mereka miliki.
Oleh karena itu, lanjut Rudy, proses penanganan yang perlu dilakukan adalah (1) sebanyak mungkin memberi kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan keinginannya di sekolah dengan aktivitas yang positif dan terpantau oleh guru; (2) memberi ruang gerak yang cukup kepada siswa untuk mengembangkan potensi dirinya, bakatnya dalam berbagai event sehingga mereka merasa diapresiasi kemampuannya; (3) mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa terkait dengan kemampuan akademik maupun non akademik seoptimal mungkin melalu pemimbingan yang terukur dan terstruktur oleh guru dan nara sumber ahli sehingga siswa memperoleh kepuasan dalam aktivitas tersebut.
Terkait tindak kekerasan kepada guru yang berujung kematian, Andar Rujito, Kepala sekolah SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, kepada Bernas.id, Selasa (13/2) menyebut peristiwa meninggalnya guru karena dianiaya siswa tentu tidak saja menggambarkan adanya persoalan yang sangat krusial di dunia pendidikan kita, tapi dalam konteks lebih luas, itu menggambarkan juga tentang keberadaan bangsa kita, karena pendidikan merupakan salah satu cerminan peradaban bangsa.
Bangsa ini, lanjut Andar, seperti sudah kehilangan jati dirinya sendiri. Nilai-nilai luhur kehidupan bangsa seakan sudah terpinggirkan. Nilai kebersamaan, kekeluargaan, musyawarah, empati pada orang lain, ramah tamah, kelemahlembutan, kasih sayang, kesantunan dan nilai-nilai luhur lainnya yang berasal dari filosofi bangsa, yaitu Pancasila makin hari makin ditinggalkan. Yang muncul justru kekerasan, egoisme, kebencian, permusuhan, dan berbagai perilaku yang justru mengedepankan ?politik identitas?.
