Bernas.id – Berita bohong atau hoaks menyebar lebih cepat dan lebih luas di media sosial Twitter ketimbang berita benar. Ironisnya hal itu bukan disebabkan oleh banyaknya akun bot yang menyebarkannya, melainkan banyaknya orang yang percaya dan membagikannya begitu saja. Demikan temuan sebuah penelitian yang dirilis Kamis (8/3) di Amerika Serikat.
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti Laboratorium Media di Massachusetts Institute of Technology (MIT) menguji sekitar 126 ribu informasi yang dibagikan oleh sekitar tiga juta pengguna twitter dari 2006 hingga 2017. Hasilnya, hoaks 70% lebih banyak dibagikan ketimbang berita benar. Studi yang hasilnya dipublikasikan di jurnal Science itu merupakan penelitian pertama paling komprehensif mengenai gejala persebaran hoaks di media sosial.
Twitter dan media sosial lain seperti Facebook belakangan menjadi pusat perhatian publik Amerika Serikat karena dianggap lemah dalam mencegah persebaran hoaks. Hal itu juga berkaitan dengan tudingan bahwa Rusia memanfaatkan media sosial untuk mengintervensi hasil pemilu Negeri Paman Sam pada 2016 lalu.
Informasi yang diuji dalam studi tersebut juga diuji oleh enam organisasi independen, seperti Snopes dan Politifact untuk memeriksa tingkat kebenarannya. Hoaks menyebar lebih cepat dan lebih luas ketimbang berita benar pada semua kategori. Kendati demikian hoaks yang paling dominan disebar pengguna media sosial adalah hoaks politik. Dominasi itu terjadi terutama pada 2012 dan 2016 ketika Amerika Serikat tengah menghelat Pemilihan Presiden.
Meskipun dalam hal ini akun bot mendapatkan perhatian, namun para peneliti MIT menemukan bahwa penyebaran hoaks oleh bot tidak sesignifikan penyebaran oleh manusia.
Soroush Vosoughi, peneliti MIT yang memimpin studi tersebut mengatakan bahwa pengguna media sosial senang menyebar hoaks karena dianggap lebih sensasional dan menarik perhatian. “Satu alasan hoaks lebih senasaional hingga terlihat menarik adalah karena berita itu berbeda dengan anggapan umum publik tentang sesuatu,” kata Vosoughi sebagaimana dikutip Gadget Now. “Jika seseorang membuat rumor yang berlawanan dengan informasi arus utama, maka itu akan lebih menarik,” imbuhnya.
Meski studi tersebut hanya fokus pada Twitter, para peneliti mengatakan bahwa temuan mereka mungkin juga berlaku pada media sosial lainnya, misalnya Facebook.
