Bernas.id – Dalam rangka mengenang jasa pengorbanan para pahlawan Indonesia, Belazo mengajak pembaca yang mulia menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dalam diri kita dan mewujudkannya dalam kegiatan sehari-hari. Kita dapat menikmati hidup di Indonesia yang merdeka seperti sekarang ini karena jasa perjuangan para pahlawan.Oleh karena itu, semangat juang para pahlawan layak kita gelorakan kembali sebagai panduan dalam berkiprah membangun Indonesia.
Khususnya Belazo sangat berterima kasih kepada para pejuang yang juga mengabadikan perjuangan para pahlawan dalam komposisi warna dan gambar. Generasi sekarang tidak akan tahu wajah para pahlawan jika tidak ada perupa yang mengabadikan wajah mereka dalam sketsa atau lukisan. Itulah bukti bahwa sejarah juga bisa ditoreh dalam bingkai keindahan. Dengan kibasan kuas dan warna-warni cat.
Kali ini, Inspirasi Belazo akan mengisahkan tentang para perupa tersebut. Mereka adalah orang-orang yang tidak lebih dikenal ketimbang karya mereka. Berikut beberapa di antaranya.
1. Augustin Sibarani
Augustin Sibarani adalah pelukis dan karikaturis terkemuka Indonesia yang melukis wajah Sisingamangaraja. Ia didapuk sebagai pelukis wajah Sisingamangaraja pada tahun pada tahun 1954, saat menghadiri pertemuan besar keluarga masyarakat Tapanuli di Menteng, Jakarta Pusat. Sibarani yang awalnya tidak menemukan foro Sisingamangaraja menggunakan keterangan tokoh-tokoh masyarakat Batak sebagai panduan ia melukis. Ketika itu, ia membuat lebih dari 10 sketsa Sisingamangaraja.
Ketika Sisingamangaraja akan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961, Sibarani diminta menyerahkan lukisannya kepada Presiden Soekarno. Saat itulah ia baru mendapatkan foto Sisingamangaraja dari slaah seorang putrinya. Setelah mengetahui secara pasti ciri-ciri Sisingamangaraja, Sibarani melukisnya kembali. Lukisan itulah yang kita kenal sebagai sosok Sisingamangaraja hingga saat ini.
2. Christian Latuputty
Lukisan Pattimura alias Thomas Matulessy yang selama ini kita kenal adalah hasil pembaruan dari lukisan lama buatan Q.M.R. Verhuell. Ia adalah komandan Marinir Belanda yang menumpas pemberontakan Pattimura pada 1817. Verhuell melukis Pattimura saat membuat berita acara pemeriksaan terkait pemberontakan tersebut.
Orang yang ada di balik pembaruan lukisan Pattimura itu adalah Christian Latuputty. Ia didapuk sebagai pelukis Pattimura pada tahun 1951. Lukisan Latuputty itulah yang digunakan sebagai rujukan untuk menetapkan Pattimura sebagai pahlawan Nasional. Pattimura sendiri ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.
3. Tarekat Kimin dan TT Tjoang
Ide melukis Sultan Hasanuddin muncul ketika Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan akan menerbitkan sebuah majalah pada 1951. Ketika itu para redaktur memutuskan untuk menghiasi sampul depan majalah mereka dengan gambar Sultan Hasanuddin. Adalah Tarekat Kimin, pelukis Jawatan yag ditugasi melukis sosok Sultan Hasanudin pada sampul majalah itu.
Karena tidak ada foto yang menunjukkan wajah Sultan Hasanuddin, Tarekat akhirnya melukis Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan itu berdasarkan imajinasinya setelah mendengarkan keterangan soal anatomi dan watak Sultan Hasanuddin dari cucunya. Ia juga mendapatkan inspirasi dari sketsa Arung Palaka, Raja Bone ke-14 yang bertubuh besar dengan alis bersambung. Maka jadilah lukisan Sultan Hasanuddin.
Lukisan itu kemudian disalin ke atas kanvas berukuran 1,5×1 meter oleh TT Tjoang yang juga pegawai Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan. Sosok dalam lukisan itulah yang kemudian dinyatakan sebagai lukisan resmi Sultan Hasanuddin sebagaimana kita kenal hingga hari ini.
