Bernas.id – Memperingati Hari Sindroma Down Sedunia tanggal 21 Maret Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) menggelar rangkaian peringatan berupa seminar, mini workshop, dan peringatan, di kampus UNY, Sabtu (14/4/2018). Acara dihadiri oleh para orang tua dengan anak-anak mereka yang mengidap down syndrome.
Beberapa anak menampilkan kemampuan mereka seperti menari dan menyanyi dalam peringatan ini. Pameran lukisan hasil karya para anak down syndrome juga ditampilkan di sini.
Ketua Pusat Informasi dan Kesehatan POTADS Yogyakarta Sri Rejeki Ekasasi menerangkan, acara ini digelar, karena hingga kini masih banyak terjadi salah paham terhadap down syndrome. Masyarakat seringkali memberikan stigma dan penyebutan yang kurang pas. “Mereka bukan penderita, karena mereka tidak menderita,” ujar Sri.
Dengan acara ini ia berharap masyarakat bisa melakukan kerjasama dengan anak-anak dengan down syndrome, terutama mereka yang sudah menginjak dewasa. Sebab ia mengakui, setelah lulus sma, para siswa dengan down syndrome “tidak bisa ke mana-mana.”
“Saya kira tidak ada perguruan tinggi yang menerima down syndrome. Padahal mereka bisa diajak magang di perusahaan, di bagian packing bisa, di bagian finishing juga bisa. Di Australia itu sudah terjadi, mereka bisa bekerja di rumah makan mencuci piring atau memotong makanan, itu bisa, walaupun fokus mereka terbatas,” ujar dia.
Wakil Rektor I UNY Margana yang membuka acara menerangkan, acara seminar menghadirkan para pakar membahas masalah down syndrome dalam tema “Aku ada, aku bisa.” Tema ini menurutnya selaras dengan potensi manusia untuk bertahan hidup dan berkarya, termasuk mereka dengan down syndrome.
“UNY siap menampung putra-putri bapak ibu, karena kami memiliki prodi pendidikan luar biasa. Anak bapak-ibu bisa masuk lewat jalur SNMPTN ,” tegas Margana. (Den)
