Bernas.id – Museum Dewantara Kirti Griya (DKG) menjadi salah satu tempat musyawarah pertama kali para kepala museum di DIY yang membentuk suatu badan yang disepakati bernama Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY pada 7 Agustus 1971. Selain itu, museum DKG merupakan memorial, yang semula sebagai tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara beserta keluarga sejak tahun 1938 hingga 1957. Tempat tinggal keluarga Ki Hadjar Dewantara itu kemudian diresmikan oleh Nyi Hadjar Dewantara pada 2 Mei 1970 sebagai museum dengan nama Museum Dewantara Kirti Griya (DKG).
“Sebagai sebuah memorial, Museum DKG telah menjadi salah satu tujuan kunjungan wisata DIY untuk pendidikan, penelitian dan kesenangan dari berbagai instansi pemerintah, swasta dan masyarakat serta cabang-cabang Tamansiswa. Museum DKG juga sebagai salah satu tempat yang menjadi program wajib kunjung museum Dinas Kebudayaan DIY. Dan dalam lima tahun terakhir ini museum DKG dikunjungi Joko Widodo (Presiden RI) dan Mendikbud serta pejabat tinggi negara lainnya,” kata Ki R Bambang Widodo SPd MPd, Ketua Badan Khusus Permuseuman, Perpustakaan dan Kearsipan Tamansiswa, pada sarasehan memperingati HUT ke-48 Museum DKG dan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Pendopo Agung Tamansiswa, Selasa (1/5/2018) malam.
Menurut Bambang Widodo, keberadaan museum saat ini menghadapi berbagai tantangan, di antaranya adalah belum berkembangnya budaya mengunjungi museum dalam masyarakat. “Membudayakan kunjungan museum di kalangan masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, tidak mudah. Bahkan di era teknologi informasi sekarang ini, mereka lebih mengutamakan kebutuhan membeli pulsa handphone untuk komunikasi/sms daripada membeli tiket masuk museum. Selain itu, mengakses informasi melalui internet, radio, televisi dan berkunjung ke mall lebih mendominasi daripada berkunjung ke museum,” kata Bambang Widodo.
Faktor lain rendahnya kesadaran masyarakat berkunjung ke museum karena kurangnya pemahaman dan penghayatan masyarakat terhadap nilai-nilai kepahlawanan, sejarah dan seni budaya yang tersimpan dalam museum. “Selama ini museum memang belum menjadi kebutuhan pokok di kalangan masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa. Hal ini antara lain disebabkan karena museum kurang menarik, statis, tidak ada inovasi dan masih kurang publikasi,” kata Bambang Widodo.
Padahal, menurut Bambang Widodo, museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan hidup sebuah bangsa dan menyimpan berbagai benda karya luhur nenek moyang, yang mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman budaya bangsa, yang penting artinya bagi pembelajaran generasi penerus.
“Keberadaan museum sebagai lembaga yang memelihara dan memamerkan benda-benda warisan budaya yang bersejarah saat ini sebenarnya dapat berperan sebagai sarana untuk membangun karakter bangsa, sehingga generasi muda kita selalu berpegang pada identitas dan jati diri bangsa Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” kata Bambang Wdodo.
Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Prof Dr Ki Sri-Edi Swasono mengatakan, peran museum sangat penting sebagai sumber inspirasi untuk memajukan bangsa di masa depan. Meski museum sangat penting untuk melihat masa lalu, namun tidak berarti kita harus kembali ke masa lalu. Museum hanya sebagai sumber inspirasi dan sebagai dasar perjuangan untuk masa depan.
“Mengunjungi museum untuk melihat benda-benda kuno tidak berarti kita harus kembali ke masa lalu, tapi benda-benda bersejarah dan informasi yang ada di dalam museum sebagai sumber inspirasi bagi kita untuk memajukan masa depan,” kata Prof Sri-Edi Swasono.
Peringatan HUT ke-48 Museum DKG ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Harian Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Suwarjono SPd dan diberikan kepada Duta Museum DKG Ria Putri Palupijati SPd disaksikan Kepala Seksi Promosi dan Inovasi Bidang Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY Drs Budi Husada. Selain itu, diisi dengan pemutaran film Ki Hadjar Dewantara Mata Air Kebangsan yang diproduksi Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud RI. “Shooting film tersebut dilakukan di Museum DKG,” kata Bambang Widodo. (lip)
