Bernas.id-Menurut data Forbes, yang mengutip US BureauofLaborStatistics, pada tahun 2026 Amerika membutuhkan 11,5 juta tenaga ahli big data atau Data Scientist. Sementara IBM mengonfirmasi peningkatan kebutuhan profesional big data hingga 700 ribu orang pada tahun 2020.
Hal ini juga terjadi di Indonesia. Ada peningkatan tajam terhadap permintaan Data Scientist. ?PT Telkom, Indosat, Tokopedia, Traveloka, Grab dan Go-Jek, untuk sekadar menyebut beberapa nama perusahaan, telah memanfaatkan sains data untuk mengembangkan bisnisnya. Namun sayang, pasokan profesional big data masih sangat kurang, baik melalui pendidikan formal maupun informal,? kata Dr R Teduh Dirgahayu, Ketua PPs FTI UII, kepada wartawan di Kampus PPs FTI UII, Senin (4/6/2018).
Menurut Teduh, permintaan data scientist meningkat karena pemanfaatan sistem dan teknologi informasi yang semakin intensif di berbagai bidang sehingga menghasilkan ledakan informasi. Ledakan ini tercermin dari banyaknya data yang terkumpul dari semua transaksi yang terjadi. Fenomena yang disebut Big Data ini memunculkan tantangan baru yaitu bagaimana mengolah data tersebut menjadi informasi yang bermanfaat secara cepat? Di sinilah pentingnya sumber daya manusia (SDM) big data sangat dibutuhkan
Sementara karakter Big Data terus berkembang mulai dari 3V, 4V, 5V dan kini telah menjadi 10V. Karakter Big Data terdiri dari volume (ukuran dan banyak data), velocity (kecepatan pertambahan data), variety (jenis data seperti teks, gambar, dan video), variability (variasi/inkonsistensi data), veracity (kehandalan/kepercayaan terhadap data), validity (akurasi dan kebenaran data), vulnerability (keamanan data rentan terhadap ancaman/serangan), volatility (umur data yang perlu dipertimbangkan, visualization (visualisasi data yang memeudahkan interpretasi dan value (nilai informasi dari data).
?Masing-masing karakter mempunyai tantangan tersendiri yang tak mungkin lagi ditangani secara manual. Pemanfaatan berbagai algoritma dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) beserta implementasinya menjadi syarat mutlak dalam pengolahan big data,? kata Teduh.
Sementara Kepala Program Studi (Kaprodi) Statistika FMIPA UII, Dr Raden Bagus Fajriya Hakim mengatakan era Artificial Intelligence (AI) telah memanfaatkan big data dan membutuhkan Data Scientist untuk menanganinya. Kompetensi seorang Data Scientist harus bisa merencanakan, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, mengintepretasikan hasil analisisnya serta mempresentasikan data.
Karena itu, menurut Teduh, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI) bekerjasama dengan Program Studi (Prodi) Statistik Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UII membuka Konsentrasi Sains Data. Konsentrasi yang dimulai tahun ajaran baru 2018/2019 ini dimaksudkan untuk mencetak Data Scientist yang berkompeten dalam mengolah big data.
“Pembukaan Sains Data ini dimaksudkan untuk memenuhi permintaan akan Data Scientist yang semakin banyak. Sebelumnya Program Magister Teknik Informatika FTI UII telah memiliki tiga konsentrasi yaitu Informatika Medis, Forensika Digital, dan Sistem Informasi Enterprise,” kata Teduh.
Untuk penyusunan kurikulum konsentrasi ini, menurut Teduh, pihaknya juga bekerjasama dengan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Big Data, PT Media Kernels Indonesia. ?Ini untuk memastikan kompetensi lulusan Konsentrasi Sains Data ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri,? kata Teduh Dirgahayu. (lip)
