Bernas.id — Sejumlah 40 mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, dengan didampingi oleh Wakil Ketua Prodi Sastra Indonesia Sony Christian Sudarsono, Kamis (1/11/2018), melakukan media visit atau kunjungan media ke Redaksi Bernas.id dan Manajemen Nagari Grup.
Rombongan diterima oleh Pemimpin Umum Galih Wijaya, Pemimpin Redaksi Nagari Philipus Jehamun, dan Pemimpin Redaksi Bernas.id Ibrahim Umar, bertempat di Gelanggang Mahasiswa STIEBBANK, Jalan Magelang, Mlati, Sleman, DIY.
?Kunjungan media bertujuan untuk menambah wawasan kepada mahasiswa dalam hal pengelolaan media massa, agar dapat menjadikan bekal dikemudian kelak setelah lulus atau menyelesaikan studinya semester depan,?papar Sony.
Lanjut, Sony, juga menjelaskan, selain ada alumni dari Prodi Sastra Indonesia USD yang bekerja sebagai jurnalis di Bernas.id, manajemen medianya juga lengkap selain mempunyai dua media online (daring) juga masih ada media cetak koran Media Komunitas Nagari.
Pemimpin Umum Nagari Galih Wijaya, dalam sambutannya, menjelaskan, pengalaman pribadinya semasa lulus perguruan tinggi, saat mencari kerjja hingga sampai terdampar di dunia media massa. Juga menjawab persoalan media terkait perubahan zaman, bahwa selain berbentuk cetak, online, kedepan manjemen juga mempersiapkan media dalam bentuk televisi streaming.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Nagari Philipus Jehamun, mengatakan, bahwa, meskipun berbentuk media online namun sebagai media mainstream pengelolaan keredaksiannya juga sama seperti cetak, bahwa tetap memegang profesionalitas sebagai seorang jurnalis yang diatur oleh kode etik jurnalistik.
?Meski media cetak diambang senja, namun kami meyakini masih ada prospek apabila dikelola secara tepat dan benar-benar segmented. Oleh karena itu, koran Media Komunitas Nagari dibikin secara khusus untuk segmen komunitas apapun yang ada di Yogyakarta,?jawab Philipus, ketika seorang mahasiswa menanyakan tentang kondisi media cetak banyak yang gulung tikar.
Selanjutnya, Pemimpin Redaksi Bernas.id Ibrahim Umar, menambahkan, untuk membedakan antara media online yang merupakan media mainstream dengan media online lainnya semacam media blog atau media online yang abal-abal. Selain kode etik jurnalistik, kode etik profesi harus dipenuhi dahulu, media online harus berpacu secara realtime (cepat waktu).
?Sehingga satu peristiwa untuk pemberitaan di media online, biasanya bisa dijadikan dua hingga empat kali naik agar informasi yang disampaikan bisa seluruhnya lengkap. Sangat beda dengan media cetak yang sekali muat bisa lengkap,?ujar Umar. (ted)
