YOGYAKARTA, BERNAS.ID — Dalam rangka meningkatkan kunjungan dan menjadikan museum sebagai destinasi pariwisata DIY, Museum Sonobudaya Yogyakarta, Kamis (13/11/2018), bertempat di rung Auditorium menggelar seminar dengan tema ?Strategi Pemasaran Museum di Era Digital?, menghadirkan pemateri tunggal Director and Founder Cornellia & Co, Dr. Ayu Helena Cornellia, BA, MSi.
Acara yang dipandu oleh Duta Museum DIY 2017-2019 Sinta Kristanti, dihadiri oleh Ketua Umum Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY Ki R Bambang Widodo, SPd, MPd, Kepala Museum Sonobudaya Yogyakarta Drs. Diah Tutuko Suryandaru, dan puluhan perwakilan atau pengurus museum yang ada di DIY.
Ada empat hal yang disampaikan Ayu Helena Cornellia, dalam melakukan Strategi Pemasaran Museum di Era Digital, yaitu, Kebijakan Pemerintah terkait manajemen museum, Organisasi/ SDM, Marketing Communication, dan Produk.
?Kebijakan Pemerintah, misal perlu adanya advokasi ke Pemerintah/ DPRD dalam penentuan harga tiket masuk museum dan dukungan pendanaan. Perlu adanya networking dengan Dinas Pendidikan maupun Dinas Pariwisata, serta terpenting penyesuaian jam buka museum, weekend dan hari libur tetap buka, hari Senin libur,?papar Ayu.
Selanjutnya, ibu berputra tiga yang meniti karir dari bidang hotelier dan ekspert dalam marketing communication, mengatakan, bahwa dalam Sumber Daya Manusia (SDM) saatnya museum memiliki staf khusus bagian hubungan masyarakat/ public relation (PR) yang mempunyai latar belakang pendidikan dan passion di bidangnya. Juga petugas penerima tamu yang mempunyai passion terhadap museum dan pariwisata, serta dapat memberikan pelayanan prima.
Sementara itu, dalam hal marketing communication, lebih menekankan pada pendayagunaan online (darling), minimal platform facebook, instagram. Website, youtube chanel, dan twitter, dengan nama akun sesuai dengan nama museum, berita yang dikeluarkan harus yang positif. Sedangkan offline (luring), membuat networking dengan travel agent, komunitas, sesama museum saling mempromosikan, dan membuat event minimal sebulan sekali.
Empat hal yang terakhir adalah bersentuhan dengan produk, meliputi multisensory marketing (visual, auditory touch, lighting, smell), kebersihan museum dan toilet. Ada rotasi koleksi, toko souvenir dan coffe shop, serta guest experience (tamu mendapatkan pengalaman menarik) sesuai dengan tema museum.
?Bau ruangan harus dijaga, penataan cahaya atau lampu dalam museum dibuat estetis, suara musik yang selaras dengan tema museum, touchscreen digital atau media informasi seperti yang ada di mal-mal. Dan paling penting adalah kebersihan toilet, sejelek-jeleknya bangunan toilet tetapi harus bersih,?pungkasnya. (ted)