YOGYAKARTA, BERNAS.ID — Hasil dari kajian Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2018 Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, Kamis (28/02/2019),menggelar Workshop Budaya, dengan tema Pernan Museum Gamelan Terhadap Sejarah Serangan Umum, bertempat di Pendapa Mandira Loka, Kantor Kelurahan Panembahan, Jalan Langenastran Lor, Yogyakarta.
Workshop Budaya yang dihadiri oleh Camat Kraton Drs. S Widodo Mujiyatno dan puluhan warga dari perwakilan RT/ RW se Kelurahan Panembahan ini menampilkan nara sumber KRT. Jatiningrat (Romo Tirun) dan Ir. Yuwono Sri Suwito.
?Penyelenggaraan workshop budaya, dengan tema Peranan Museum Gamelan Terhadap Sejarah Serangan Umum (SO 1 Maret 1949) merupakan hasil kajian dari Musrenbang tahun 2018. Bertujuan untuk memupuk wawasan kebangsaan bagi pemuda dan warga Kelurahan Panembahan pada umumnya, serta pemahaman bangunan bersejarah (heritage),?jelas Lurah Panembahan Purnama, SE kepada Bernas.id di sela-sela acara.
KRT. Jatiningrat atau akrab disapa Romo Tirun, salah satu penghageng Kraton Yogyakarta, memaparkan tentang peristiwa Serangan Umum yang terjadi 70 tahun silam yang menurutnya adalah prakarsa dari Sri Sultan HB IX dengan perseutujuan Jendral Sudirman, selaku Panglima Besar.
?Waktu itu Sri Sultan HB IX mendengarkan berita dari radio Amerika (VoA), radio Inggris (BBC) dan radio Australia (ABC) yang mengabarkan tentang rencana PBB akan membahas nasib Indonesia dalam sidangnya. Atas dasar berita itulah, Sinuwun HB IX mempunyai gagasan untuk mengadakan semacam show of force (pamer kekuatan) yang kemudian disampaikan kepada Jenderal Sudirman yang kebetulan sedang bergerilya di wilayah Jawa Timur,?papar Romo Tirun.
Romo Tirun juga memaparkan hal-hal yang selama ini tidak terekspos oleh media, termasuk keberadaan Kota Yogyakarta yang terancam atau menjadi sasaran tembak oleh Belanda. Juga pelurusan tempat bersejarah, nama regol atau gerbang Letkol Suharto (Presiden ke 2 RI) ketika masuk ke dalam kraton, regol tersebut bernama Regol Tinjamaya yang bermakna Tempatnya Para Bidadari.
?Pak Harto masuk ke kraton untuk menghadap Sri Sultan HB IX, melalui pawon Prabeya kemudian masuk melintasi Regol Tinjamaya yang selama ini dipahami sebagai Regol Margalena. Beliau memakai busana peranakan tanpa alas kaki seperti selayaknya abdi dalem lainnya,?ujar Romo Tirun.
Sementara itu, Yuwono Sri Suwito, menyinggung sedikit, keberadaan Museum Gamelan yang berada di Jalan Gamelan Kidul, Yogyakarta, bahwa bangunan yang telah menjadi milik pemerintah tersebut dahulunya merupakan Warung Sate Puas, tempat di mana Sri Sultan HB IX melakukan koordinasi dengan para gerilyawan.
Selebihnya, Yuwono yang kaparingan asma (diberi nama) KRT. Widya Anindita oleh Sultan HB X ini, memaparkan tentang Pelestarian Sumbu Filosoi Ditinjau dari Aspek Budaya Fisik. Disebutkan, bahwa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai inti Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta merupakan kota yang sangat terencana oleh arsiteknya yakni Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) yang juga pendiri dan arsitek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
?Itulah sebabnya eksitensi dan perkembangan Kota Yogyakarta tidak lepas dari keberadaan Kraton Yogyakarta sebagai inti perkembangan Kota Yogyakarta. Posisi Karaton Ngayogya Hadiningrat sebagai patron dan pusat pengembangan kebudayaan akan menempatkannya sebagai kekuatan kebudayaan. Maka peranannya akan semakin kuat untuk menjaga Keistimewaan Yogyakarta,?jelas Yuwono.
Selanjutnya, Yuwono, menjelaskan konsep dan filosofi tata ruang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, meliputi Sumbu Imajiner, garis yang menghubungkan Gunung Merapi, Kraton, Laut Selatan. Dan Sumbu Filosofi, garis hubungan Tugu, Keraton, Panggung Krapak, yang telah dikukuhkan dengan Perda DIY No. 6 Tahun 2012. Juga dijelaskan beberapa jenis vegetasi atau pepohonan asli yang ditanam berdasar filosofinya, seperti Pohon Asem bermakna sengsem (tertarik), pohon Gayam bermakna ayom (teduh/ damai).
?Oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan HB I) konsepsi yang Hinduistis tersebut diubah menjadi filosofi Islam-Jawa. Sumbu Imajiner diubah menjadi konsep filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dan Manunggaling Kawula Gusti. Sedangkan Sumbu Filosofi diubah menjadi konsep filosfi Sangkan Paraning Dumadi, dengan Kedathon sebagai titik pusat (centrum) filosofi, dilambangkan dengan lampu Kyai Wiji yang tidak pernah padam sejak Sultan HB I bertahta,? tuturnya. (ted)
