YOGYAKARTA, BERNAS.ID — Penulis asal Toraja, Sili Suli, akan meluncurkan novelnya yang berjudul Surya, Mentari dan Rembulan, Sabtu 6 April 2019, pukul 14:00 – 17:00 WIB, di Pendapa Agung Mangkubumen, Universitas Widya Mataram, barat Pasar Ngasem, Yogyakarta.
Novel ini merupakan novel fiksi bergenre sejarah, budaya, dan petualangan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Surya, seorang gembala kerbau dari Toraja yang mendapat tugas untuk menyelamatkan anak seorang pemangku adat yang diculik oleh sekelompok orang tak dikenal.
Misi ini akhinya membawa Surya berkelana dari Toraja, Pinrang, Parepare, Semarang, Yogyakarta, Surakarta dan Batavia. Bahkan Surya terpaksa harus menemani para juragan yang tergabung dalam komunitas KenDor untuk berpetualang menyusuri Sungai Gangga dan berjalan kaki hingga ke kaki Gunung Sagarmatha di Nepal.
“Novel ini banyak bercerita tentang keunikan budaya Toraja, diantaranya tentang ritual mayat berjalan dan prosesi acara pemakaman adat Toraja yang cukup menggelitik yakni rambu solo level ma'barata. Selain itu dalam novel ini ada disinggung soal tarian pusaka keraton yang paling sakral yakni tari Bedhaya Semang dan festival Gadhimai yang unik di Nepal,” jelas Ketua Panitia, Boedijono, melalui rilis yang dikirim ke Bernas.id, Jumat (05/04/2019).
Menurut Boedijono, secara implisit, novel ini sebenarnya ingin mengemukakan nilai-nilai kearifan lokal dari Toraja, Bugis, Yogyakarta dan Nepal dengan tujuan bahwa setiap daerah sesungguhnya memiliki nilai-nilai kearifannya sendiri. “Dan itulah yang sebenarnya merupakan salah satu kekayaan Indonesia sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia,” ungkapnya.
Acara peluncuran novel ini juga akan dirangkai dengan diskusi novel, dengan menampilkan delapan narasumber. Mantan Bupati Tana Toraja , Kol TNI (Purn) Tarsis Kodrat akan berbicara tentang judi sabung ayam di Toraja yang merupakan salah satu fenomena sosial yang diangkat oleh Sili Suli dalam novelnya. Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Litha Brent akan berbicara tentang seluk beluk kopi Toraja.
?Sementara itu, narasumber lainnya adalah Lambert Tallulembang selaku pemerhati budaya Toraja, Raden Haji Heru Wahyu Kiswoyo selaku pemerhati budaya Jawa, penari Jawa Sri Moeljo Istiyaningsih, novelis Ahmad Sekhu, Sekjen KAWIMA Anten Djuhansyah dan seorang pecinta alam, Langgeng Supriyadi,?imbuh Boedijono. (*/ted)
