YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Mabuross event organizer menggelar Seminar Nasional “Optimalisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Terkait Hasil RISKESDAS 2018 dalam Pengendalian Hipertensi”, Minggu (21/7/2019) bertempat di Graha Bina Husada, Poltekes Yogyakarta.
Ketua Panitia, Dwi Novitasari, S.Gz mengatakan acara ini bertujuan meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat terkait Germas didalam pengendalian hipertensi mengingat saat ini meningkatnya pengidap hipertensi. “Melalui Germas yang merupakan program pemerintah untuk diterapkan kepada kehidupan masyarakat bisa mengendalikan hipertensi,” katanya.
Dikatakan oleh Sri Mulyani, SKM, M.Kes dari Poltekes Yogyakarta hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. “Hipertensi adalah gangguan pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa pembuluh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan,” jelasnya.
Walaupun tidak menular, namun hipertensi lanjut Sri Muryani dapat menjadi resiko beberapa penyakit seperti stroke, dan penyakit jantung.
Hal senada juga diungkapkan Dr Tri Siswati, M.Kes yang menjelaskan gejala hipertensi seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, sulit bernafas setelah bekerja keras atau mengangkat beban berat, mudah lelah, penglihatan kabur, wajah memerah, hidung berdarah, sering buang air kecil terutama di malam hari, telinga berdenging, dan dunia terasa berputar (Vertigo).
“Untuk itu diperlukan perilaku kehidupan yang sehat, mulai dari berolahraga, istirahat yang cukup, dan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin, serta jangan pernah takut untuk mengecek tensi darah paling tidak satu bulan sekali,” paparnya.
Ditambahkan Tri, berdasarkan Permenkes RI Nomor 28 tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan program JKN, Hipertensi menduduki peringkat kedua program rujuk balik (PRB) pada penyakit-penyakit kronis, setelah Diabetes Melitus.
Selain itu sambung Tri dibutuhkan diet seimbang, istirahat yang cukup, kelola stres, ceknkesehatan secara teratur, enyahkan asap rokok, dan rajin aktivitas fisik minimal 30 menit sehari untuk mengendalikan hipertensi.
Untuk penanganan hipertensi pada kehamilan dan periode postpartum dijelaskan oleh Dr Mufdlilah, S.Pd, S.SiT, MSc dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, bahwa hipertensi dalam kehamilan dapat terjadi pada semua ibu hamil. “Gangguan hipertensi dalam kehamilan mempengaruhi satu dari sepuluh kehamilan dan sering bertahan pasca kelahiran,” katanya.
Bahkan 5-10 persen komplikasi dalam kehamilan dan menjadi penyebab dari kematian ibu selain pendarahan dan infeksi adalah hipertensi dalam kehamilan. “Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian ibu didunia. Angka kejadian hipertensi dalam kehamilan sekitar 6 hingga 8 persen,” terangnya.
Ditambahkan Tonny Arjuna dari UGM, faktor kelebihan berat badan atau obesitas juga menjadi salah satu penyebab hipertensi.
Drg Indria Nehriasari, Sp, BM, M.Kes memaparkan hipertensi arteri menyebabkan angina, myocardial, infarction, dan cerebrovascular event (Stroke), untuk itu perlu diperhatikan kebersihan gigi seseorang. (mar)
